Krisis Pangan dan Konflik, Mengorbankan Umat Mulia

Krisis pangan yang melanda di berbagai negara konflik, belum mampu terselesaikan. Harga bahan pokok cukup membuat kantong menjerit. Beberapa keluarga di Palestina yang mengalami kejahatan kemanusiaan sangat terdampak krisis tersebut. Tak terkecuali negara Suriah, selain mengalami kelaparan sebab krisis roti, mereka juga dihadapkan pada kecemasan sebab konflik.

“Jutaan orang kelaparan di Suriah, sebagian besar karena kegagalan pemerintah untuk mengatasi krisis roti yang ditimbulkannya,” ujar Sara Kayyali, peneliti Suriah di Human Rights Watch. (30/5).

Tidak cukup sampai di situ, kondisi tersebut diperparah oleh kebijakan diskriminatif atas distribusi roti. Adanya pembatasan ketersediaan roti bersubsidi yang bisa dibeli warga setempat, menjadikan Suriah kesulitan untuk mendapatkannya. Suriah kini menjadikan roti sebagai makanan pokok, salahsatu sebabnya adalah kehilangan 943 ribu hektar lahan pertanian antara tahun 2010 dan 2018, (30/5).

Mengorbankan umat Islam di negeri konflik tak dapat dihindari sebab Krisis pangan. Diskriminasi yang terjadi tak juga mampu dihentikan. Bahan makanan yang didonasikan hanya solusi sampingan. Olehnya perlu peran pemimpin Muslim yang berani mengambil kebijakan untuk menghentikan penindasan.

Inilah mengapa perlunya sistem Islam diterapkan di seluruh dunia. Dengan sistem ini penindasan benar-benar akan dihentikan hingga tuntas. Bantuan tak hanya sebatas retorika belaka. Semua akan menjadi suatu keniscayaan. Saatnya beralih ke sistem yang rahmatan lilalamin.

Nur Rahmawati, S.H.
Penulis dan Pemerhati Politik

Tinggalkan Balasan