BUMN yang Dulu Diandalkan, Kini Kedodoran


Oleh: Fityah Sholihah

Nasib BUMN sudah tak sebagus gaungnya lagi. Lembaga ekonomi yang dulu di gaungkan menjadi lembaga andalan mulai melemah dan banyak masalah.

Di lansir  berdasarkan data Kemenkeu bahwa sembilan BUMN aneka industri terancam gulung tikar. Di lanjut dari menteri BUMN Erick Thohir bahwa PLN mempunyai Rp 500 triliun. Belum lagi maskapai PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dalam kondisi tidak baik karena perusahaan menanggung rugi sampai US$ 100 juta atau sekitar Rp 1,43 triliun. Juga, PT Waskita Karya (Persero) Tbk. mengalami kerugian hingga Rp7,3 triliun padahal, pada 2019 perseroan mampu mengantongi laba bersih Rp 938 miliar. Belum dari permasalahan BUMN yang lain.

BUMN yang dulu dibanggakan sekarang menjadi lembaga yang sakit dan membawa deret panjang persoalan ekonomi bangsa. BUMN yang dulu menjadi ikon kebesaran dan kekokohan bangsa kini mulai kedodoran dalam menangani persoalan internal dan eksternal. BUMN yang di harapkan bisa menjaga kewibawaan dan stabilitas ekonomi nasional kini lemah dalam menjaga stabilitas dalam lembaga sendiri. Entah sampai kapan dalam keadaan keterpurukan. Yang jelas eksistensinyanya sudah jauh asap dari panggang seperti yang di harapkan.

Kasus korupsi merajalela telah menggerogoti badan BUMN seperti penyakit kronis yang sulit di sembuhkan. Asas the right man on the right sudah tidak bisa berjalan kembali karena muatan politik senantiasa mendompleng atas lembaga tersebut. Begitu kasus mendera yang seharusnya hukum dapat banyak menyelesaikan , tapi kenyataannya hanya isapan jempol belaka. Azas hukum yang membawa mahkota keadilan sudah kehilangan jati dirinya karena hukum sudah tidak tajam lagi . Hukum menjadi filosofi pisau yang hanya tajam di bagian bawah saja tapi tumpul di bagian atas. Hukum hanya keras pada persoalan rakyat bawah tapi tidak mampu mengatasi pada kasus penguasa, petinggi apalagi para cukong apalagi korporator. Karena rupanya money politik pun juga sudah merambah pada tubuh lembaga hukum nan agung ini. Tentu saja, ketumpulan hukum menjadi andil tersendiri dalam keruwetan persoalan ini.

Kapitalisme biangnya

Keruwetan yang terjadi pada BUMN kita tentunya bukan sebuah kebetulan. Sudah menjadi analisa dan perdebatan di arena publik membicarakan hal ini. Namun analisa tinggal analisa dan tidak pernah menyentuh pada persoalan yang sesungguhnya. Ada apa di balik itu semua? Sehingga persoalan BUMN menjadi pelik. Bukankah secara azas pemikiran setiap persoalan ada solusinya. Tidak lain dan tidak bukan bahwa dari segala lini urusan negeri ini sudah menggunakan sistem yang salah yaitu sistem kapitalis yang diusung dari barat.

Sistem ini telah menjauhkan dari sistem keadilan dari sisi kemanusiaan. Terlebih lagi sistem ini telah membawa dampak pendzoliman kepada umat. Paham individualis dan kapitalis telah membawa nafsu keserakahan, memeperkaya diri sendiri.

Setiap kebebasan ala kapitalis tentunya tak selalu berakhir indah, apalagi ketika aturan dikendalikan oleh kebebasan hawa nafsu yang penuh keserakahan dengan menghalalkan segala cara. Praktik korupsi, kolusi, manipulasi adalah cara para kapitalis dalam memuluskan tujuannya. Sesuatu yang merugikan umat dan Negara menjadi budaya dan harta Negara pun seolah menjadi harta rayahan yang membuat kalap dan lupa akan batas hak milik yang sesungguhnya.

Itulah prinsip ideologi kapitalis yang memberi kebebasan individu untuk bebas berperilaku termasuk dalam berperilaku ekonomi. Menghalalkan segala cara atas nama kepentingan individu, kelompok, maupun partai adalah hal yang biasa. Ujung-ujungnya nasib rakyat banyak menjadi taruhan kerusakan dalam sistem ini.

Hukum bisa di beli dengan uang. Korupsi menjadi biasa manakala dilakukan secara bersama, masif, dan sistemik. Menempatkan the wong man on the wrong place demi suatu kepentingan kekuasaan dan kesrakahan bukan hal yang memalukan lagi. Belum lagi praktik jual beli saham yang layaknya perjudian dalam lembaga membawa nasib perusahaan dalam ujung tanduk berbau spekulasi.

Kembalilah kepada Islam

Masih ragukah dengan sistem Islam nan agung. Islam membangun untuk taat dan setia kepada kebenaran dan kebaikan berdasarkan keimanan. Kebaikan Islam tidak hanya untuk kaum muslim tetapi umat di seluruh dunia.

Sejak zaman Rasullulloh, sahabat dan kholifah berikutnya sistem Islam tegak menaungi kaum muslim dan non muslim seperti nasrani, yahudi, majusi, dan kepercayaan lain dengan harmonis. Mereka hidup bahagia sejahtera tanpa harus di paksa masuk Islam (karena Islam tidak pernah kmemaksan kepada umat lain untuk masuk agama ini. Firman Alloh SWT, yang artinya “ bagimu agamamu, bagiku agamaku” (QS Al kafirun:6).

Islam sistem yang kafah, mengatur dan memberi solusi bagi segala urusan manusia secara pari purna. Mulai mengatur urusan individu, masyarakat, maupun negara. Tidak hanya ibadah ritual, tetapi juga politik, sosial, keamanan, juga ekonomi.

Dalam ekonomi Islam, kepemilikan dibagi menjadi 3 macam yaitu pemilikan individu, pemilikan umum, dan pemilikan negara. Ketiganya berjalan dalam kontrol hukum yang baik. Sehingga tidak tumpang tindih dan memberi jalan keserakahan manusia seperti halnya sistem kapitalis. Sementara dalam kapitalisme, sistem privatisasi individu atau kelompok bisa menguasai pemilikan umum dan pemilikan negara. Sehingga harta hanya terkumpul pada segelintir atau sekelompok orang saja, dan rakyat banyak dalam kemiskinan.

Sistem ekonomi Islam akan di tegakkan oeh orang-orang yang amanah (dapat di percaya) dan kafaah (mampu) dalam naungan sistem Islam. Kekayaan dalam pemahaman Islam bukanlah merupakan tujuan hidup melainkan sebuah amanah yang akan menjaga kelangsungan hidupnya dan harus dipertanggung-jawabkan kepada Alloh SWT. Sehingga harta korupsi (mengambil harta milik umum), ghulul (penggelapan) menjadi tindak pidana yang akan di tangani hingga tuntas. MasyaAlloh.

Tinggalkan Balasan