Oleh: Madam Pray

Dikutip dari CNBC Indonesia – Pandemi Covid-19 semakin dalam posisi yang mengkhawatirkan di Amerika Serikat (AS). Meski memiliki angka vaksinasi yang cenderung tinggi, negara itu tetap mengalami peningkatan infeksi yang signifikan, bahkan lebih dari 1000% bila dibandingkan Juni lalu.

Dalam datanya, CNBC juga mengutip dari data interaktif Covid-19 milik New York Times, pada akhir Juni lalu rata-rata kasus infeksi di Negeri Paman Sam masih berada di level 11 ribuan per minggunya. Namun saat ini rata-rata infeksi mingguan telah mencapai 141 ribu kasus perharinya. Ini merupakan kenaikan lebih dari 10 kali lipat.

Sebagai negara kampiun kapitalisme dan demokrasi, AS telah terbukti rentan dalam menyelesaikan problem pandemi karena ada beberapa alasan mendasar.

Pertama sistem kapitalisme sejak awal berbasis penyelamatan ekonomi, bukan berbasis penyelamatan nyawa manusia. Kebijakan yang lahir tidak akan jauh dari motif penyelamatan ekonomi dan menegasikan penyelamatan manusia. Ada pun vaksin bukanlah solusi yang efektif apabila dihadapkan pada pandemi Covid-19 akibat sunnatullah virus SarsCov ini memiliki “crown” yang lebih tajam sehingga mudah menempel pada sel darah manusia. Belum lagi karakteristik alami dari Virus SarsCov ini yang hanya berisi protein dan “kode ketik” yang hanya bisa berkembang ketika menempel pada sel darah manusia. Artinya, mutasi virus covid terjadi karena manusia menjadi inang yang apabila tidak berhenti untuk berinteraksi sementara waktu, maka mutasi pasti akan terjadi berlipat ganda. Vaksin, pada saat yang sama, hanyalah booster imun agar tubuh kita mampu secara alami menolak virus tersebut untuk berkembang dalam sel darah kita. Itu pun satu jenis vaksin hanya bisa dipakai efektif untuk satu jenis varian. Hal itu tidak akan terjadi apabila varian virusnya sudah bermutasi. Demikianlah penjelasan dari ahli biologi molekuler Ahmad Rushdan Ph.D. Maka bisa disimpulkan, langkah yang diambil negara-negara yang mengikuti WHO dan AS tidaklah mampu menyelesaikan masalah pandemi jika masih berasaskan tolok ukur yang sama seperti selama ini.

Kedua, pandemi ini adalah masalah global. Ia tidak mengenal batas wilayah, perbedaan suku, bangsa, apalagi mazhab. Artinya solusi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pandemi ini tidak mungkin solusi parsial dan nasional. Harus ada intervensi global agar memutus mata rantai penyebaran a.k.a kontak langsung manusia bisa berjalan secara serentak. Tidak buka-tutup macam aturan genap-ganjil jalanan di DKI Jakarta. Intervensi ini tidak mungkin apabila negara-negara dunia masih menggunakan sistem nation-state dengan demokrasi sebagai asasnya.
Satu-satunya sistem yang mampu melakukan hal tersebut hanyalah Khilafah yang telah terbukti selama masa kepemimpinannya selama 1300 tahun mampu menghadapi pandemi-pandemi sehingga tidak sampai menjadi gejala global.

Wahai Kaum Muslim, pilihan ada ditangan Anda. Masihkan bertahan dengan sistem sekarang?