Oleh: Patimah Nasution

Usai sudah peperangan dua dekade (20 tahun) antara Amerika Serikat terhadap Afganistan. Senin, (30/8), Taliban mendeklarasikan bahwa Afghanistan kini sudah merdeka setelah pesawat militer terakhir AS lepas landas dari bandara Kabul. Juru bicara Taliban Qari Yusuf mengatakan “Tentara AS terakhir sudah meninggalkan bandara Kabul dan negara kami mendapatkan kemerdekaan yang seutuhnya”. Sejak Taliban mengambil alih istana kepresidenan dan Presiden Afganistan Ashraf Ghani meninggalkan Kabul pada hari Minggu, (15/08), menjadikan Afganistan berada dalam kekuasaan Taliban.

Pergantian kekuasaan di Afganistaan merupakan suatu keniscayaan akan terjadi. Julukan Graveyard of Empires “kuburan imperium” bukanlah bualan sejak Amerika Serikat dan sekutu NATOnya memutuskan untuk meninggalkan Afghanistan. Kepergian AS dan sekutu NATOnya hanya menjadi yang terbaru dari serangkaian invasi negara dan imperium yang pernah mencoba untuk menguasai Afganistan, yaitu Inggris (Abad ke-19) dan Uni Soviet (1979—1989). Seperti yang dipelajari Inggris dalam perang mereka (1839-1842) di Afghanistan, seringkali lebih mudah melakukan bisnis dengan penguasa lokal yang didukung oleh rakyat daripada mendukung pemimpin yang ditopang oleh kekuatan asing. Biaya menopang pemimpin seperti itu akhirnya akan bertambah.

Terbukti sejak keruntuhan rezim Ashraf Ghani yang merupakan rezim buatan Amerika, tiada lain hanya menghasilkan kerugian besar. BBC pada 9/1/2016 mengutip dari majalah Forbes Amerika, “Perang di Afganistan membebani Amerika hingga sekarang, di samping tewasnya lebih dari 2.400 orang tentara Amerika dan puluhan ribu lainnya mengalami luka-luka dan cacat permanen. Meski dengan kerugian besar SDM dan finansial itu, Amerika telah gagal menghancurkan gerakan (Taliban)…” Telepas dari banyaknya faktor yang melandasi penarikan pasukan AS dari Afganistan, akhirnya Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa “Setelah bertahun-tahun, inilah saatnya untuk membawa pulang tentara kita ke tanah air.” Upaya apapun yang menyerupai penguasaan dan kontrol terpusat di Afganistan sebagian besar telah gagal.

Tambang Mineral Afganistan Melimpah
Kini giliran Taliban yang berada di tampuk kekuasaan Afganistan. Gerakan yang dikenal buruk sebagai sasaran kebijakan “War on Terrorism” oleh Amerika Serikat, dikarenakan hubungannya dengan Osama bin Laden yang dituduh sebagai pihak yang bertanggung jawab atas peristiwa 9/11 Gedung WTC, sekarang menjadi penguasa baru. Dengan menjadi penguasa baru di Afganistan, otomatis Taliban menjadi penguasa baru atas keberlimpahan sumber daya alam di Afganistan.

Sejak keberhasilan invasi Amerika Serikat (2001-2004) dalam menjatuhkan pemerintahan Taliban ‘Imarah Islamiyah’, AS menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga dari senjata anti-tank (RPG) maupun gudang persenjataan AK-47, yaitu ladang tambang mineral bernilai triliunan dolar. Pada 2004, setelah terbentuknya pemerintahan Afghanistan yang baru ‘Demokrasi ala Barat’ dan kekuatan militer AS semakin kuat dengan bergabungnya Pasukan NATO, Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) mulai menginspeksi potensi mineral Afghanistan. Saat itu terkuak bahwa selama ini staf Badan Survei Geologi Afghanistan menyimpan peta geologi ‘harta karun’ era kekuasaan Uni Soviet.

Survei yang dilakukan AS memverifikasi semua temuan Soviet. Afghanistan menyimpan lebih kurang 60 juta ton tembaga, 2,2 miliar ton bijih besi, 1,4 juta ton unsur tanah langka seperti lanthanum, cerium, dan neodymium. Belum lagi kandungan aluminium, emas, perak, seng, merkuri dan lithium. “Afghanistan adalah negara yang sangat, sangat kaya dengan sumber daya mineral” kata Jack Medlin, ahli geologi dan program manajer proyek USGS di Afghanistan kepada LiveScience. Data terbaru dari laporan survei yang diliris ahli geologi USGS (2010) memperkirakan bahwa Afghanistan memiliki kekayaan mineral hampir US$ 1 triliun. Kemudian, sebuah laporan tindak lanjut oleh Pemerintah Afghanistan (2017) memperkirakan bahwa kekayaan mineral di Afganistan mungkin mencapai US$ 3 triliun, termasuk bahan bakar fosil.

Harian New York Times melaporkan, tembaga dan lithium adalah jumlah terbesar dalam ladang tambang Afganistan. Bahkan, deposito lithium Afghanistan lebih berpotensi besar ketimbang Bolivia, yang saat ini memiliki cadangan terbesar lithium di dunia, hingga para ahli geologi menjulukinya sebagai ‘Arab Saudi-nya lithium’. Lithium adalah mineral utama yang digunakan dalam baterai isi ulang produk elektronik seperti smartphone dan laptop hingga kendaraan listrik. Permintaan pasar dari banyak komiditas mineral ini telah naik pesat, dengan pertumbuhan tahunan sebesar 20% dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu yang berkisar 5-6 %. Harga tembaga juga mendapat keuntungan dari pemulihan ekonomi global pasca-Covid-19 dengan naik 43% dibandingkan pada tahun lalu.

Selain itu, lithium merupakan elemen yang dapat digunakan untuk aplikasi militer dan teknologi nuklir. Melalui proses reaksi kimia, lithium dapat digunakan pada bahan bakar (propelan) dalam peluncuran Torpedo Mark 50 (senjata anti kapal selam), dan melalui proses pemisahan isotop dan dicampur dengan deuterium, lithium dapat digunakan sebagai bahan bakar dalam bom nuklir. Sungguh, ada potensi menakjubkan di Afganistan. Potensi SDA yang dimiliki Afganistan tidak hanya dapat mengubah situasi ekonominya di pasar global, membangun infrastuktur maupun menjadi negara yang makmur, namun memiliki potensi kebangkitan dan kekuatan Islam.

SDA Afganistan, Ajang Perebutan Bagi Asing
Suatu kewajaran bagi para kapitalis terpikat dengan kekayaan mineral Afganistan. Dengan kondisi Afganistan yang masih dilanda kemiskinan, kekeringan parah dan kurangnya infrastruktur, kondisi ini bisa saja menjadi kesempatan bagi para investor asing melakukan bisnis tambang berskala besar disana. Namun investor-investor asing sangat berhati-hati dalam melakukan bisnis ini, sebab adanya tantangan keamanan, medan yang sulit dan infrastuktur yang kurang memadai, mencegah penambangan besar-besaran belum terealisasi hingga sekarang. Meskipun Taliban telah menguasai Afganistan, situasi tersebut tidak bisa segera berubah dan butuh penanganan serius.

Para pengamat mengatakan, meski situasi Afghanistan saat ini masih belum stabil, tidak menyurutkan minat dari negara-negara seperti China, Pakistan, dan India mencoba untuk terlibat dalam penambangan mineral ini. Taliban yang menyebut China sebagai negara “bersahabat” menyambut baik investasi Beijing dalam pembangunan kembali Afghanistan yang dilanda perang. “Kami menyambut baik mereka (China). Jika mereka memiliki investasi tentu kami menjamin keamanan mereka. Keamanan mereka sangat penting bagi kami,” kata juru bicara Taliban Suhail Shaheen, dalam wawancara dengan harian South China Morning Post.

Meskipun Beijing telah mendapatkan kontrak tambang tembaga Mes Aynak melalui Metallurgical Corporation of China (MCC), senilai US$ 3 miliar ditahun 2008, ternyata China memiliki kekhawatiran soal keamanan industri pertambangannya di Afghanistan. Walaupun tenaga keamanan swasta bisa disewa untuk mempertahankan tambang dari serangan pemberontak, biaya yang dikeluarkan untuk membawa bahan tambang keluar dari negara tersebut akan sangat mahal.

Selain itu, China juga mengkhawatirkan keamanan proyek infrastuktur paling ambisiusnya di bawah BRI (Belt and Road Initiative). Tanpa kesepahaman dengan Taliban, proyek-proyek BRI di kawasan, terutama China Pakistan Economic Corridor (CPEC), akan rentan terhadap serangan “teroris”. Itulah kenapa China menginginkan Taliban untuk mengendalikan Gerakan Islam Turkestan Timur (ETIM). Dengan kata lain China ingin mencegah radikalisasi Islam di kawasan bisnisnya dan membutuhkan Taliban untuk mencegah limpahan fundamentalisme Islam melalui perbatasan timur laut Afghanistan. Permintaan ini disambut dengan baik oleh Taliban melalui Juru bisacaranya Suhail Shaheen. Dia mengatakan bahwa kelompok separatis termasuk ETIM, tidak diizinkan beroperasi di Afghanistan. “Kami telah membuat komitmen bahwa kami tidak akan mengizinkan mereka baik itu individu maupun entitas terhadap negara mana pun termasuk China, ini adalah komitmen kami di bawah perjanjian Doha,” imbuh dia.

China juga mewaspadai kehadiran AS di Afghanistan. Pasca perjanjian Doha, Rusia maupun China merasa tidak nyaman dengan kehadiran AS di halaman belakang mereka. Sebagaimana yang dikatakan oleh Dubes Afghanistan di Washington kepada Reuters di bulan Juni “Presiden Trump sangat tertarik dengan potensi ekonomi Afghanistan”. Para pejabat Amerika juga mengungkapkan kepada Reuters di Gedung Putih bulan Juli lalu, bahwa Trump mendesak Amerika harus menuntut bagian dari kekayaan mineral Afghanistan sebagai timbal-balik atas bantuan AS untuk pemerintah Afghanistan.

Jauh sebelum itu, Pandangan Amerika untuk keluar dari perang ini bukanlah hal baru. Amerika Serikat mulai serius merencanakan penarikannya dari Afganistan sejak akhir 2010 dan awal 2011, maka Amerika mulai berusaha untuk memulai negosiasi dengan para pemimpin senior Taliban. Negosiasi ini dipuncaki dengan perjanjian yang ditanda tangani di Doha, Qatar (29/2/2020). Poin pentingnya adalah bahwa AS dan sekutu NATO-nya akan menarik pasukan mereka dari Afganistan, jika Taliban memenuhi komitmennya berdasarkan perjanjian Doha.
Bersedianya Taliban duduk di meja negosiasi tersebut, merupakan suatu keberhasilan bagi AS dalam menaruh kepentingan politiknya di Afganistan, dengan kata lain AS tidak melepas sepenuhnya Afganistan. Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa itu adalah “perjalanan panjang dan sulit”. Melalui strategi negosiasi vital yang disebut dengan Misi Khalilzad, Amerika telah menunjuk Zalmay Khalilzad sebagai utusannya untuk mengkoordinasikan dan mengarahkan upaya AS yang ditujukan untuk menjamin duduknya Taliban di meja perundingan (Kantor berita Anadolu Agency Turki, 12/1/2019).

Meskipun Extended Troika on Peaceful Settlement –sebutan bagi ke-empat negara yakni Amerika Serikat, China, Rusia dan Pakistan– bersama-sama menyatakan tidak mendukung pembentukan pemerintahan Afghanistan dari mana pun yang “dilakukan secara paksa”, namun AS dan China secara relatif jarang dapat bekerja sama dengan erat justru keduanya terus mengarah pada hubungan persaingan. Fakta bahwa kebersamaan Rusia dan China serta hubungan Pakistan dengan China yang semakin bersahabat, disisi lain Amerika Serikat yang bersama agen-agennya: Pakistan, Turki, Iran, Uni Emirat Arab, dan komprador yang ada dalam Afganistan sendiri, memperlihatkan bahwa mereka akan tetap beradu kekuasaan. Selain itu, Afganistan yang saat ini dikuasai oleh Taliban hanya menjadi yang terbaru dari pergantian pemain utama yang direncanakan oleh Amerika Serikat. Keputusan penjajah memberikan kemerdekaan bagi suku asli Afganistan, seolah-olah adalah hal baik di mata publik. Padahal kemerdekaan dengan harga perjanjian dan negosiasi sejatinya menjebak kaum muslim untuk tidak membangkitan Kekuatan Islam yang dulu pernah berjaya.

Kaum Muslim Fokuslah Pada Kebangkitan Islam
Begitulah kekuatan global seperti China, Rusia dan Amerika Serikat yang saling memperebutkan pengaruh politik dan ekonominya di Afganistan. Mereka tidak akan pernah berhenti sampai mereka dapat menguasai kaum muslimin sepenuhnya. Sebagaimana firman Allah swt. dalam Al-Qur’an:
وَلَنْ تَرْضٰى عَنْكَ الْيَهُوْدُ وَلَا النَّصٰرٰى حَتّٰى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ
“Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka…”

Tiada solusi lain bagi negara kaum muslim agar dapat terlepas dari jeratan musuhnya (negara-negara kufur) kecuali dengan kukuh memegang kebenaran Islam sebagai mabda (Ideologi). Afganistan butuh menerapkan Islam ideologis jika ingin merdeka, bukan membeli kemerdekaan dengan negosiasi yang justru akan membuat negara-negara kufur memiliki kesempatan untuk dapat melindungi pengaruh politiknya disana. Bahkan dengan negosiasi tersebut mereka akan mendapatkan sesuatu yang tidak bisa mereka capai dalam perang 20 tahun tersebut. Sebagaimana nasehat Syekh ‘Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah bahwa “Mengikuti kebenaran adalah yang menyelamatkan Taliban, negeri Afganistan dan warganya, serta kaum muslim seluruhnya”.

Telah terbukti Selama 13 abad, ketika kekuatan kaum muslim berada pada saat mereka menerapkan Islam dalam bernegara maupun kehidupannya, tidak terjadi permasalahan politik, keamanan, maupun kelaparan. Pada saat itu kaum muslim masih memiliki junnah (perisai) yang melindungi kaum muslim dari musuh Islam, berupa Daulah khilafah Islamiyah. Begitu pula pengelolaan sumber daya alam yang diatur dengan Islam. Islam tidak akan memberikan kesempatan bagi asing untuk dapat menyentuh sejengkal tanah milik kaum muslim. Diantara pedoman dalam pengelolaan kekayaan alam antara lain merujuk pada sabda Rasulullah saw. : “kaum Muslim berserikat dalam tiga hal: air, rumput dan api” (HR. Ibnu Majah). Menurut aturan Islam, kekayaan alam adalah bagian dari kepemilikan umum dan Kepemilikan umum ini wajib dikelola oleh negara. Hasilnya diserahkan untuk kesejahteraan rakyat secara umum. Sehingga, haram hukumnya memberikan hak penguasaan, pengelolaan dan hasil tambang jatuh ke tangan asing penjajah.

Peristiwa berkuasanya Taliban di Afganistan, merupakan keharusan bagi kaum muslim untuk tidak bersikap acuh dan berpangku tangan atas peristiwa-peristiwa yang menimpa kaum muslim di Afganistan maupun diseluruh dunia. Kaum muslim hendaknya menyadari peristiwa ini merupakan salah satu bukti bahwa kaum muslim telah kehilangan Daulah Khilafah Islamiyah. Ketidaksiapan kaum muslim untuk mau menerapkan syariah Islam kaffah (keseluruhan) hingga tatanan negara, akan mempertahankan keadaan kaum muslim yang didera penderitaan dimana hak-haknya dikuasai oleh asing. Setelah Arab Saudi dan Indonesia, kini Afganistan yang belum siap menegakkan kekuatan Islam. Bersedianya Taliban berada dalam jebakan negosiasi akan menjadikan afganistan tetap berada dalam bayang-bayang kekuatan asing.

Kondisi kaum muslim yang seperti ini sangat rentan dan menghawatirkan. Apalagi serangan musuh-musuh Islam yang tak kunjung berhenti untuk meredam kebangkitan Islam. Wajar fenomena Islamofobia, kondisi krisis dan konflik-koflik etnik yang dialami oleh kaum muslim tak ada habisnya. Propaganda-propaganda yang dilakukan oleh media mainstream kapitalis untuk monsterisasi Islam, telah berhasil mengganti wajah ajaran Islam bagaikan sebuah ancaman yang ditakuti. Selain itu, konflik etnis dan perang saudara yang terjadi di berbagai negeri kaum muslim, tiada lain adalah strategi musuh Islam untuk menjauhkan fokus umat terhadap skenario perampokan SDA. Umat butuh sistem kepemimpinan Islam untuk menyelesaikan permasalahan ini.

Hendaknya kaum muslim seluruhnya meyakini bahwa agenda utama kaum muslim adalah mengembalikan Khilafah Islamiyah setelah sekian lama menghilang. Hal itu merupakan kewajiban dari Allah swt dan merupakan ketaatan kepada Rasulullah saw. Mengembalikan kekuasaan Islam tidak lain adalah untuk menegakkan, memelihara dan mengemban Agama yang mulia ini. Untuk mewujudkannya dibutuhkan ikhtiar dan kesungguhan dari kaum muslim baik di Afganistan maupun diseluruh dunia untuk bersatu meraih kekuasaan Islam. Sepanjang sejarah politik Islam dan periwayatan hadist, Rasulullah saw telah berhasil mencontohkan penegakan pemerintahan Islam di Madinah, yang kemudian diteruskan oleh para sahabat dengan sistem Khilafah. Tidak seharusnya kaum muslim menolak metode Rasulullah dengan ikut berpartisipasi dalam pemerintahan campuran Islam dan sekularisme yang sudah pasti tidak akan diterima oleh Allah Swt.

Wahai saudara-saudari muslim yang jujur dan setia di Taliban, Afganistan dan seluruh dunia, kita tengah menghadapi tantangan dari musuh-musuh Islam. Janganlah kita bercerai-berai dan terjebak dalam skenario global untuk menghabisi Islam. Tetaplah melaksanakan dakwah sebagaimana Rasulullah saw dan para sahabat beliau berdakwah, meskipun banyak menghadapi berbagai rintangan, ancaman bahkan penyiksaan. Dakwah Islam tidak boleh berhenti agar upaya penegakan syariah Islam dalam Istitusi Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah tidak kandas.