Oleh: Anisah Raudah


Insiden Covid19 di Indonesia semakin meningkat bahkan peningkatan insiden terhitung harian dengan angka yang cukup fantastis. Angka Insiden membuat kita berpikir kapan pandemi ini akan berakhir ??? Permasalahan pandemi ini semakin menambah keruwetannya ibarat benang kusut dengan ditambah lagi permasalahan baru yaitu dengan munculnya varian baru dari Covid19 yaitu Varian Delta yang dikabarkan virulensi lebih tinggi dibandingkan varian yang ada sebelumnya.
Upaya penanganan varian yang ada seperti yang kita ketahui sudah sangat marak yaitu dengan pemberian vaksin juga dibarengi segala macam spekulasi negatif yang ada tentang vaksin dan tingkat keampuhannya dalam mencegah Covid19 pada orang yang telah divaksin.
Berita keampuhan vaksin yang ada juga masih diragukan keampuhan dalam mencegah Covid19 dikarenakan terdapat kasus seseorang yang telah di vaksin ternyata tetap dapat mengalami kasus Covid19. Spekulasi yang ada di tengah masyarakat tentunya membuat kegaduhan yang luar biasa di tengah masyarakat, di samping masyarakat juga harus menjalankan intervensi berbagai program penanganan Covid19 yaitu dari program 3M, PSBB, Lockdown, hingga PPKM level 4.

Flashback Insiden
Hampir 2 tahun kita berada dalam kondisi pandemi namun intervensi program belum mampu menangani pandemi ini agar segera usai. Maka kita berkaca dari angka insiden kasus dari pertama muncul hingga sekarang. Pada awalnya angka kasus berada pada tingkat rendah dan kemudian meningkat dan kemudian turun kembali. Jika dilihat pada kurva epidemi maka kasus tersebut adalah fluktuatif, maka dalam hal ini kita bias membaca hal ini dapat terjadi dikarenakan kelalaian dan kurangnya kewaspadaan dini yang kita lakukan.
Disaat kasus menurun kita mengangap ini adalah akhir sehingga segala upaya pencegahan seperti 3M, PSBB, dan Lockdown sudah kita longgarkan dan kita akhiri padahal sebagaimana kita ketahui fase ini adalah fase yang sangat rentan .

Para pakar epidemilog telah mengingatkan dan memprediksikan lonjakan kasus akan terjadi kembali jika upaya preventif dan kuratif yang adekuat tidak kita perketat karena ritme penyakit Communicable Deases adalah demikian, namun dengan alasan ekonomi dan kerjasama luar negeri maka harus dilonggarkan , sehingga kita harus melakukan adaptasi kebiasaan baru (new normal), menerima dengan jumlah yang tidak sedikit warga negara dari luar negeri seperti China yang kita ketahui tempat awal munculnya kasus ini .

Namun buah pahit ketidak konsistenan kewaspadaan dini dan sebuah sistem kewaspadaan dini yang tidak dijalankan sebagaimana mestinya dan peranan kuat pemerintah dalam menopang ketahanan perekonomian rakyat secara mandiri tanpa bergantung dengan negara lain menjadi hal yang sangat penting.

Ketahanan ekonomi juga tentunya sebuah integrasi dengan ketahanan kesehatan di masa pandemi sebgaimana kita ketahui vaksin masih kita peroleh dari negara luar, artinya negara kita masih sangat tergantung pada negara lain, maka ini adalah hal yang mengkhawatirkan .

Bagaimanakah Pandemi ini akan Berakhir?
Indonesia adalah negeri dengan mayoritas penduduk beragama Islam, maka sudah sepantasnya kita mengajak kepada seluruh kaum muslimin untuk mengambil solusi yang dibawa oleh Rasulullah, meningkatkan keimanan dan amal sholeh, dan meyakini apapun yang terjadi di muka bumi ini adalah kehendak Allah Swt.

Kejahilan kita terkadang begitu besar sehingga sering melupakan Allah Swt dan Rasul Saw dalam menyelesaikan masalah. Kita hanya bertopang pada kejeniusan kita yang ternyata hanya setetes air yang tidak akan mampu melepaskan dahaga.

Allah Swt telah mencontohkan melalui Rasul Saw dalam menangani penyakit yang mewabah pada masa pemerintahan Islam. Langkah lockdown yang diterapkan saat penyakit menular mewabah sangat sesuai dengan perintah syariat Islam. Rasulullah Muhammad Saw bersabda, “Jika kalian mendengar wabah di suatu wilayah, janganlah kalian memasukinya. Jika wabah terjadi di tempat kalian berada, jangan tinggalkan tempat itu.” (HR al-Bukhari)

Khalifah Umar bin al-Khaththab pada era kepemimpinannya berani mengambil kebijakan lockdown kala itu, sehingga wabah penyakit (Tha’un) dapat diakhiri dalam waktu yang relatif singkat. Sebab, dengan lockdown prinsip memutus mata rantai penyebaran penyakit terealisasi.

Sayangnya paradigma kekuasaan dalam politik demokrasi sekuler telah mendidik para pemimpin untuk memprioritaskan kepentingan ekonomi para kapitalis ketimbang mewujudkan jaminan kesehatan dan keberlangsungan ekonomi rakyat. Akhirnya dalam penanganan pandemi Covid19, pemerintah gagal total karena memilih solusi sistem kapitalisme.

Ketidakkonsistenan ini adalah akar dari ketahanan sistem ekonomi yang lemah dan kemandulan kemandiran ekonomi sehingga membuat kita harus menelan buah pahit bencana yaitu kematian yang terjadi didua mata sisi yaitu kematian karena kelaparan dan tentunya karena Covid19 akibat kelemahan ketahan kesehatan.
Semua ini akan selesai jika kita kembali pada Allah Swt dengan menjalankan hukum Islam Secara Kaffah dalam bingkai Daulah Khilafah Islamiyah. Islam Problem Solving.
Wallahu ‘Alam Min Sawab.