Oleh : Reni Adelina
(Kontributor Media Tinta Muslimah Line)

Kembali publik digegerkan dengan ajang pemilihan Miss Queen Indonesia 2021 di Bali. “Sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang memanusiakan manusia.” Sebuah kalimat yang diungkapkan Millen Cyrus di sesi final question 3 besar. Keponakan penyanyi Ashanty ini berhasil meraih juara pertama pada ajang transgender tersebut. Millen Cyrus berhasil mengalahkan 17 kontestan lainnya, dari kemenangan ini akan membawa nama Indonesia ke kancah Miss Queen Internasional 2022 tahun depan di Thailand (celebrity.okezone, 01/10/21).

Dilansir dari situs wikepedia.org bahwa ajang ini diselenggarakan para kaum pelangi ini untuk menumbuhkan kesadaran hak transgender di kalangan masyarakat internasional, melakukan penggalangan dana yang akan disumbangkan ke yayasan AIDS Kerajaan Thai, membangun persahabatan, sikap sportif dan bertukar ide antar komunitas LGBT Internasional.

Miss Queen, Prestasi atau Malapetaka ?

Ajang Miss Queen tentu menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat. Sebab dengan mayoritas Muslim, hal ini harusnya menjadi sebuah malapetaka bukan sebuah prestasi.

Ajang ini memberikan ketakutan yang mengundang murkanya Allah. Ajang Miss Queen ini mengingatkan kembali kisah kaum Nabi Luth Alaihi Salam, yakni kaum Sodom yang menyukai sesama jenis.

Sebagai seorang Muslim, mengimani para Nabi dan Rasul hukumnya adalah wajib. Sebagaimana Allah berfirman dalam Qur’an yang artinya : “Para rasul yang Kami utus itu adalah untuk memberi kabar gembira dan memberi peringatan. Barang siapa beriman dan mengadakan perbaikan, maka tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati”(QS. Al-An’am ayat 48).

Penting sekali bagi seorang Muslim mengimani para Nabi dan Rasul, bukan hanya sekedar iman dengan lisan namun harus diimbangi dengan hati dan amal perbuatan. Banyak kisah dan perjalanan dakwah para Nabi dan Rasul yang digambarkan dalam kitab suci Al-Quran. Guna memberikan pelajaran kepada setiap Muslim bahwa ada syariat yang mengantarkan kepada ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.

Sistem Islam Menjaga Syariat

Isu LGBT dan sejenisnya terus digulirkan dengan dalih menghormati hak asasi manusia. Padahal secara fitrah, Allah menciptakan manusia berpasang-pasangan. Lalu, Islam dengan syariatnya mengatur dengan baik naluri mencintai dan melangsungkan keturunan, yakni dengan cara yang halal melalui sebuah pernikahan.

Kapitalisme berpayung liberalisme, adalah sebuah sistem rusak yang banyak diadopsi masyarakat dunia saat ini. Kebebasan berpendapat ala Barat mengantarkan kepada perilaku dan pemikiran yang tidak sesuai tuntutan agama.

Padahal peristiwa kaum Sodom sudah cukup menjadi peringatan, bahwa LGBT dan sejenisnya telah dilaknat Allah dengan hujan batu. Peristiwa ini telah Allah sampaikan berkali-kali dalam Al-quran, yang artinya, “Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu), maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu” (QS.Al-A’raf ayat 84)

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyurapai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki” (HR. Bukhari 5885).

Islam menjaga setiap Muslim dari bentuk kemaksiatan termasuk tindakan LGBT. Untuk itu peran negara yang berwenang dalam menerapkan aturan Islam untuk memberantas LGBT.
Dalam hal ini negara berupaya melakukan : Pertama, mewajibkan setiap rakyat menuntut ilmu dan memahami Islam secara kaffah atau totalitas sehingga tertancap pada setiap diri individu ketakwaan yang kuat kepada Allah.

Kedua, negara wajib mengontrol individu, masyarakat dan negara dengan sistem Islam Kaffah. Termasuk menghentikan akses yang mengarah kepada pornografi.

Ketiga, negara wajib menghukum pelaku LGBT dengan landasan hukum syariat Islam.

Sehingga hanya dengan Islam segala permasalahan negeri termasuk LGBT akan diatasi dengan baik. Dengan demikian terciptalah kehidupan Islam yang akan mengantarkan pada rida Allah dan Rasulullah.

Wallahu’alam.