Oleh : Rakhmawati Aulia

Pagi itu, setelah selesai belajar bersama Ummi. Kia izin untuk bermain ke rumah Intan.

Di rumah Intan terlihat ada Gina yang sudah sibuk dengan mainan. Kia ikut bergabung untuk bermain.

“Kia kok kamu pakai kerudung terus sih main?” Tanya Gina tiba-tiba menegur Kia.

“Iya nggak apa-apa. Pakai kerudungkan perintahnya Allah,” sahut Kia polos.

“Nggak gerah apa?”

“Kalau sudah biasa nggak gerah kok. Kata Ummiku, lebih baik kita Bergerah-gerah di dunia dari pada nanti kena panas api neraka gara-gara nggak pakai kerudung. Ngeri!” gumam Kia lagi dengan ekspresi wajah ngeri.

“Sok tau ah si Kia ini!” Seru Gina agak jutek.

“Bukannya sok tau Gina. Tapi ini benaran kok. Ayo Gina dan Intan kita pakai kerudung. Perintah Allah lho!” Ujar Kia mengajak Gina dan Intan pakai kerudung.

“Ih kamu aja. Kami nggak mau, gerah!” seru Intan.

“Nggak boleh seperti itu Intan, inikan perintah Allah. Kalau nggak mau nanti bisa dapat dosa lho”

“Ih Kia, sok nasehatin terus nih!” seru Gina jengkel.

“Iya nih! Udah sana pulang, main sendiri!” Seru Intan yang membuat Kia agak sedikit terkejut.

“Sana! Sana!” usir Gina.

Dengan hati yang gusar, Kia bangkit dari tempat duduknya dan meranjak pergi tanpa sepatah kata pun.


Di dalam kamar terlihat Ummi sedang asyik dengan keyboard komputernya fokus menatap layar.

“Lho udahan mainnya!”

“Udah. Bosan!” Seru Kia uring-uringan sambil merebahkan tubuhnya di kasur.

“Bosan kenapa? Kan rame main sama teman?” Tanya Ummi menyelidiki kebosanan Kia.

“Mereka itu lho Mi nggak mau menemani” Ujar Kia dengan wajah kesal.

“Kenapa? Kakak ada bikin kesal?”

“Mereka itu lho bilang aku pakai kerudung terus!”

“Terus,”

“Aku kan nasehatin mereka, kalau pakai kerudung itu perintah Allah. Eh aku malah nggak mau ditemani”

“Nggak apa-apa mengajak orang dalam kebaikan itu kan nanti dapat pahala Kak!”

“Tapi, masa aku kan selalu nasehatin mereka. Mereka nggak mau dengar malah ngolok-olok aku Mi” gumam Kia lagi kesal.

“Mengajak orang ke dalam kebaikan itu Kak, memang nggak bisa satu kali saja bisa berulang-ulang kali. Ingat Nabi Muhammad dalam mendakwakan Islam bagaimana? Beliau disakiti, dicacimaki. Berhenti tidak beliau berdakwah?” Tanya Ummi.

“Tidak Mi, Rasulullah tetap berdakwah tetap berjuang”

“Iya benar. Ingat tidak apa yang dilakukan Abu Lahab ketika Rasulullah Saw sedang sholat?”

“Diletakkan kontoran unta dipundak beliau. Sampai membuat Fatimah bersedih” Sahut Kia.

“Apakah Rasulullah menyerah dan berhenti mengajak kepada Islam?”

“Tidak Mi,”

” Iya betul. Bayangkan apa yang terjadi kalau saat itu Rasulullah Saw berhenti berdakwah?”

“Kita mungkin nggak akan tau tentang sholat, beribadah sama Allah.”

“Iya benar. Mungkin bisa jadi hari ini kita tidak akan mengenal indahnya Islam kalau Rasulullah berhenti dakwah, tapi Rasulullah tetap berjuangkan mendakwahkan Islam.” jelas Ummi lagi.

“Iya Mi,”

“Jadi Nak, dalam menjalankan ketaatan pada Allah itu diperlukan kesabaran. Mengajak teman dalam taat pun diperlukan kesabaran. Jadi jangan menyerah ya Nak. Tetap semangat ya!”

“Iya Mi! Tapi kalau mereka ngolok-olok lagi gimana Mi?”

“Sabar dan do’akan teman-temannya agar taat sama Allah. Ok!” Sahut Ummi sambil tersenyum.

“Kakak Kia tidak sampai disakiti kan? Tidak dipukul kan atau dilempari dengan kotoran kan?”

“Tidak Mi”

“Artinya belum ada apa-apa nya jika dibandingkan dengan perjuangan dakwah yang dilakukan Rasulullah Saw. Dakwah yang sangat luar biasa yang harus kita tauladani. Jangan mudah menyerah dalam menyampaikan kebaikan, jadilah perantara ketaatan. Siap!” Ujar Ummi menyengati Kia.

Kia mengangguk berlahan, menghampiri dan memeluk Umminya yang dibalas Ummi dengan usapan kasih sayang.
**

Inspirasi : “Bersabarlah atas apa yang mereka katakan; dan ingatlah akan hamba Kami Dawud yang mempunyai kekuatan; sungguh dia sangat taat (kepada Allah).” (QS. Shad : 17)