Oleh : Amanda Novitasari

Indonesia merupakan negara yang memiliki SDA yang berlimpah. Indonesia memiliki kekayaan tambang yang banyak salah satunya adalah tambang emas. Wilayah Indonesia yang memiliki kekayaan tambang emas paling fantastik adalah Papua.

Belakangan ini Blok Wabu yang merupakan salah satu tambang emas yang menjanjikan di Papua menjadi sorotan publik. Pasalnya adanya perseteruan antara Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dengan dua aktivis yaitu Direktur Eksekutif Lokataru Haris Azhar bersama Koordinator Kontras Fatia Maulidiyanti.

Blok Wabu sendiri adalah daerah pegunungan yang memiliki kandungan emas cukup besar. Letaknya tidak jauh dari area tambang PT Freeport Indonesia. Berdasarkan pendataan yang dilakukan, Blok Wabu memiliki potensi sumber daya emas mencapai 8,1 juta troy ounce. Sedangkan untuk rata-rata kadar emas dalam satu ton bijih emas yang digali sekitar 2,17 gram. Bahkan, dibeberapa spot ada yang mencapai 72 gram per 1 ton bongkahan biji emas (Kompas, 23/09/2021).

Sebelum tahun 2018, Freeport Indonesia telah melepaskan Blok Wabu kepada pemerintah. Akan tetapi, pemerintah baru secara resmi menyatakan hal tersebut dalam Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) pada 21 Desember 2018. Berdasarkan berita yang beredar, Blok Wabu disinyalir jatuh ke tangan swasta.

Persoalan Blok Wabu
Pemerintah dianggap kurang transparansi terkait Blok Wabu ini. Mulyanto, Anggota Komisi VII DPR RI, mempertanyakan transparansi proses alih kelola Blok Wabu dari PT Freeport Indonesia kepada perusahan lain tanpa proses lelang yang terbuka. Padahal, berdasarkan UU No. 3 Tahun 2020 tentang Mineral dan Batu Bara, setiap kawasan yang sudah selesai masa kerjanya harus dikembalikan kepada negara. Namun, jika akan diserahterimakan kepada pihak lain harus dilakukan proses lelang yang sesuai dengan ketentuan. Menurut penurutan Mulyanto semestinya BUMN mendapat prioritas pertama untuk ditawarkan bukan malah diperebutkan pihak swasta (Dunia Energi, 29/09/2021).

Blok Wabu yang sudah dilepaskan oleh PT Freeport Indonesia ini menjadi rebutan pihak swasta. Bahkan disinyalir sudah jatuh ke tangan swasta. Hal ini didasarkan pada laporan berbagai lembaga seperti YLBHI, WALHI Eksekutif Nasional, Pusaka Bentala Rakyat, WALHI Papua, LBH Papua, KontraS, JATAM, Greenpeace Indonesia, Trend Asia, dan gerakan #BersihkanIndonesia, yang melaporkan ada empat perusahaan yang menguasai konsesi lahan tambang Blok Wabu. Satu di antaranya adalah PT Madinah Qurrata’Ain (PTMQ) yang diduga terhubung dengan Toba Sejahtra Group (Tempo, 1/10/2021).

Pada laporan tersebut, Luhut disebut masih memiliki saham di perusahaan Toba Sejahtera Group. Toba Sejahtra Group melalui anak usahanya, PT Tobacom Del Mandiri, disinyalir mengempit sebagian saham PTMQ. West Wits Mining sebagai pemegang saham PTMQ membagi saham kepada Tobacom dalam proyek Derewo River Gold Project (Tempo, 1/10/2021).

Peneliti Alpha Research Database, Ferdy Hasiman, meminta Kementerian ESDM transparan soal pelepasan Blok Wabu yang dikabarkan jatuh ke tangan swasta. Akan tetapi, pihak Kementerian ESDM belum memberikan respon terkait tender pengelolaan Blok Wabu.

Meskipun isu ini sudah mereda, menurut advokat Haris Azhar, S.H., M.A. perlu adanya kontestasi informasi terkait Blok Wabu. Ia khawatir karena masih adanya informasi yang masih simpang siur dan belum adanya informasi yang sebenarnya.

Pengelolaan SDA dengan Islam
Jika berkaca dari kasus yang sudah terjadi tentu saja bukan kali pertama hal ini terjadi. Hal ini sudah sangat jelas jika negara tersebut mengemban kapitalisme. Pengelolaan sumber daya alam yang justru diserahkan kepada pihak swasta menyebabkan terjadinya penguasaan SDA hanya oleh segelintir orang sedangkan rakyat justru banyak yang dirugikan.

Bagaimana tidak? Jika dilihat di Papua sendiri dengan sumber emas yang menggiyurkan dan memiliki potensi yang besar tetapi masih terdapat banyak permasalahan yang terjadi mulai dari pendidikan, ekonomi, dan lainnya. Masih banyak terjadi ketimpangan sosial dan ekonomi terutama didaerah yang dekat dengan kawasan pertambangan emas. Hal ini tentu saja cukup miris.

Pertambangan emas ini juga meninggalkan jejak-jejak yang kurang menguntungkan seperti pencemaran lingkungan. Hal ini karena daerah pertambangan memiliki kandungan logam yang tinggi dan perlu adanya recovery lahan untuk dapat dimanfaatkan kembali. Dan itu memerlukan waktu lama.

Jeratan kapitalisme ini yang menyebabkan pemanfaatan sumber daya alam tidak dapat dioptimalisasi dan manfaatnya dapat dirasakan oleh rakyat melainkan justru hanya dinikmati oleh segelintir manusia. Maka tidak salah jika Indonesia dengan SDA yang berlimpah namun rakyat justru tidak bisa menikmatinya dan terjadi ketimpangan sosial dan ekonomi.

Sedangkan dalam Islam, sumber daya alam merupakan kepemilikan umum yang harus dikelola oleh negara dan manfaatnya diberikan kepada rakyat secara umum sehingga menciptakan kesejahteraan. Dan suatu yang haram jika pengurusan sumber daya alam diserahkan kepada swasta, individu, atau asing.

Hal ini merujuk pada salah satu hadist Rasulullah, “Kaum muslim berserikat (memiliki hak yang sama) dalam tiga hal: air, rumput, dan api.” (HR Ibnu Majah). Rasul saw juga bersabda, “Tiga hal yang tak boleh dimonopoli: air, rumput, dan api.” (HR Ibnu Majah).

Tambang emas merupakan kepemilikan umum yang harus dikelola oleh negara. Dan tidak seharusnya diserahkan kepada pihak asing atau swasta. Tentu saja jika tambang emas dengan potensi yang menjanjikan ini dikelola dengan syariat Islam maka akan didapatkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat.

Bisa dibayangkan, jika negara Indonesia yang menyimpan SDA yang berlimpah menerapkan hukum Islam secara menyeluruh dalam pengelolaan sumber daya alam ini sudah bisa dipastikan akan terciptanya kesejahteraan bagi rakyat Indonesia. Dengan penerapan syariat Islam yang kaffah ini, keberkahan akan didapatkan sehingga Allah akan melimpahkan anugerah dan rahmat-Nya. Sehingga rakyat dapat hidup sejahtera dan jauh dari hidup yang sengsara.

Allah berfirman, “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan” [QS. Al A’raf ayat 96]

Wallahu a’lam