Oleh : Daliyem (Penggiat Tulisan)

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG – Betapa tega SS (44) seorang ayah tiri di Palembang, ia melampiaskan nafsu bejatnya kepada anak tirinya sendiri selama 6 tahun, sejak korban masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) kelas 4.
Ia pun berhasil diringkus, setelah korban menceritakan hal tersebut kepada saksi dan pelapor yang merupakan ayah korban. “Karena tidak tahan dengan kebejatan tersangka, korban menceritakan hal tersebut kepada saksi, dan saksi menyampaikan hal tersebut kepada pelapor, ayah kandung korban, ” ujar Kasat Reskrim Polrestabes Palembang Kompol Tri Wahyudi, Kamis (19/8/2021).

Tersangka telah diamankan malam hari tadi Rabu (18/8) oleh unit PPA Sat Reskrim Polrestabes Palembang pimpinan Iptu Hj Fifin Sumailan. Dari keterangan laporan yang diterima, kejadian tersebut terakhir kali dialami korban pada hari Kamis tanggal 12 Agustus 2021, kekerasan seksual ini sangat rentan bagi korban karena kesehatan yang dilakukan oleh orang terdekatnya sendiri.

Betapa teganya seorang ayah tiri melakukan tindakan bejat, tidak senonoh kepada anak tirinya yang sebenarnya sudah menjadi anaknya sendiri. Entah setan apa yang merasukinya hingga dengan keji melakukan perbuatan terkut itu.

Tidakkah si ayah tahu penderitaan panjang yang dialami ank tersebut akan mengalami truma berkepanjangan dan juga masa depannya pun menjadi suram. Inilah buah dari sistem sekuleris yang melahirkan manusia-manusia dari nilai takwa.

Semua ini tidak lepas negara menerapkan sistem aturan kehidupan yang berasal dari akal manusia yang terbatas. Walhasil dalam sistem Sekuleris agama hanya mengatur urusan ibadah ritual semata.

Sementara aturan kehidupan yang meliputi hubungan dengan sesama manusia justru diatur oleh aturan buatan manusia. Dapat kita saksikan aturan buatan manusia tidak lepas dari azas manfaat atau bisa dikatakan manfaatkan yang nanti akan diambil dari setiap aturan baik secara materi maupun secara kepuasan semata.

Maka kebejatan yang dilakukan oleh manusia yang mengambil aturan buatan manusia ini pasti terjadi dan tak dapat dielakkan. Juga fungsi daripada ulama, ustadzah dan ustadz hanya mengajarkan agama dengan ceramah-ceramahnya hanya mengajarkan ibadah semata tanpa membahas agama yang bersifat politik bahkan sebagian dari para penceramah malah menjauhi aturan agama secara Kaffah karena dianggapnya ajaran itu hanya ada didalam Al-Qur’an dan tidak cocok untuk perkembangan zaman saat ini maka lahirlah istilah moderasi Islam.

Moderasi Islam sesungguhnya lahir dari pemahaman para tokoh agama yang menjadikan agama sebagai jalan tengah yang hanya mengatur urusan ibadah semata atau bisa dikatakan ini contoh dari agama kepasturan. Bayangkan alangkah rusaknya jika negara membiarkan sistem sekuleris ini berkembang dan menjadi darah daging kaum muslim maka lahirlah pemahaman yang sesat karena keluar dari jalur Islam yang sebenarnya atau keluar dari aturan agama yang kaffah.

Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 208)

Sudah dapat dipastikan perlunya kontrol negara yang mampu menjaga jiwa, harta, kehormatan, nasab, keamanan dan negara. Perlindungan negara kepada rakyatnya harus benar-benar mampu menjaga setiap jiwa rakyatnya karena mereka memegang amanah dari Allah SWT dengan mengambil sumpah melalui Al Qur’an yang mulia.

Maka negara yang mampu memberikan perlindungan kepada rakyatnya hanya negara yang menerapkan Syariah Islam secara Kaffah. Hanya negara yang menerapkan syariah islsm secara Kaffah lah yang mampu menerapkan sangsi hukum berupa Jabir (penebus dosa didunia dan akhirat) dan jawazir ( pencegah timbulnya tindakan kriminal yang baru/ efek jera).

Sebagai contoh di masa Rasulullah SAW, pernah ada dua orang yang berzina. Mereka adalah Maiz Al-Aslami dan Al-Ghomidiyah. Masing-masing berzina, yang sudah barang tentu tanpa diketahui oleh siapapun. Tapi karena didorong oleh ketakwaannya, akhirnya mereka menghadap kepada Rasulullah SAW untuk meminta dihukum rajam dan disucikan. Ini karena mereka meyakini dengan ketaqwaanya bahwa dengan hukuman rajam tersebut maka dosa mereka akan terhapuskan.

Dari Buraidah, Ia menuturkan: Seorang Wanita yang disebut Al Ghamidiyah datang menemui Rasulullah Salallahu’alaihi wa sallam Ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku telah berzina. Sucikanlah aku!”
Tapi Rasulullah menolak pengakuannya tersebut.Keesokan harinya, Ia datang kembali kepada Rasulullah seraya berkata, “Wahai Rasulullah, mengapa Anda menolak pengakuanku? Mungkin Anda menolakku sebagaimana menolak pengakuan Ma’iz? Demi Allah,saat ini aku sedang Hamil”.

Rasulullah mengatakan, “Baiklah, kalau begitu kamu pergi dulu sampai kamu melahirkan anakmu”. Seusai melahirkan,Wanita itu kembali menghadap Rasulullah sambil menggendong bayinya itu dalam selembar kain seraya melapor, “Inilah bayi yang telah aku lahirkan”. Beliau bersabda,”susuilah bayi ini hingga di sapih”.

Setelah disapih,wanita tesebut kembali menghadap beliau dengan membawa bayinya sedang ditangannya memegang sepotong roti. Ia berkata, “Wahai Nabi,aku telah menyapihnya. Ia sudah bisa memakan makanan”.
Beliau lalu menyerahkan anak itu kepada seorang pria dari kalangan umat islam,kemudian Beliau memerintahkan agar menggali lubang sampai diatas dada,lalu memerintahkan orang-orang untuk merajam wanita tersebut.

Saat itu Khalid bin Walid membawa batu di tangannya lantas melemparkannya kearah kepala wanita itu hingga darahnya memuncrat hingga mengenai wajah Kholid bin Walid. Tak ayal khalid memaki wanita itu.Mendengar makian khalid kepada wanita itu, Rasulullah mengatakan,”Sabar khalid! Demi zat yang jiwaku ada ditanganNya, Sungguh dia telah bertaubat dg taubat yang seandainya dilakukan oleh seorang pemungut cukai (pajak) niscaya ia akan diampuni”.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, Kemudian Rasulullah mensholatkannya. Umar bertanya, ” Engkau mensholatinya, wahai Rasulullah, padahal ia telah berzina?” Beliau menjawab, “Ia telah bertaubat dengan taubat yang sekiranya dibagikan kpd 70 penduduk Madinah niscaya mencukupinya; apakah kamu menemukan taubat yang lebih baik daripada orang yang menyerahkan jiwanya karena Allah”.(HR.Muslim,11/374.)

Dalam hadist lain, Rasulullah saw berkata : “Bahwa sesungguhnya sekarang Maiz sedang berenang di sungai-sungai di surga.”
Demikianlah jika syariah Islam diterapkan secara Kaffah makan akan menjadi rahmatan Lil ‘alamiin.
Wallahu’alam bishowab