Oleh: Alsa Sabilla

Gerakan antiislam kembali terulang. Ujaran kebencian secara terang-terangan bahkan seruan untuk memusnahkan mereka dinyatakan kepada saudara kita muslim India. Penduduk minoritas yang terbatasi dan terdiskriminasi dalam setiap gerak dan aktivitasnya. Sungguh memilukan memang nasib kaum muslimin di sistem saat ini, baik sebagai organisme minoritas ataupun mayoritas, tetap tak mendapat keadilan.

Kaum muslim India telah membuktikan tidak adanya keadilan di sistem tanpa perisai dan perlindungan terhadap umat saat ini. Tatkala pemimpin agama Hindu menyerukan genosida terhadap umat Muslim di bagian Uttarakhand, hanya investigasi dan interogasi saja yang dilakukan penegak hukum tanpa adanya penangkapan meski bukti yang jelas sudah dipegang.


Nampak wajar dan lumrah terjadi bahwasanya sejak 2014 peristiwa seperti ini sering terulang di India. Terlihat jelas sejak pemerintahan India dibawah BJP (Partai Bharatiya Janata Party) kaum muslim India telah menjadi sasaran diskriminasi dan penganiayaan agama dengan tujuan menggiring kembali India dari negara sekuler dan demokratis menjadi negara Hindu tanpa adanya Muslim di dalamnya.

Namun sejatinya, hal seperti ini tak hanya menimpa kaum muslimin di wilayah Uttarakhand, melainkan di berbagai penjuru dunia, mulai dari Yahudi kepada kaum muslim Palestina, Kaum muslim Rohingya di Myanmar, Afghanistan, Iraq, Kashmir, Newzeland, Syiria, dan negeri lainnya yang mengalami penindasan dan penjajahan.

Perlu kita sadari bahwa toleransi merupakan narasi bohong yang digembar-gemborkan dalam demokrasi. Toleransi hanya sebatas jargon kosong. Pemerintah India telah membuktikan bahwa tidak ada toleransi terhadap muslim disana. Pemerintah penganut demokrasi memperlakukan kaum muslim secara tak manusiawi dan kaum muslim sedunia tak mampu berbuat apa-apa.


Tercabutnya rasa aman dan nyaman kaum muslimin di seluruh dunia ini terjadi akibat runtuhnya Daulah Khilafah Utsmananiyah pada 3 Maret 1924 dan dihapusnya sistem Khilafah oleh Mustafa Kemal. Sejak saat itu, segala aspek dalam kehidupan digantikan dengan sistem demokrasi dan paham sekuler liberal. Dan sejak saat itu pula, malapetaka mulai menimpa kaum muslimin diseluruh penjuru dunia.

Sungguh kaum muslimin tidak akan pernah aman kondisinya tanpa adanya Khilafah di sisinya, sebab Khilafah merupakan pelindung umat dari musuh-musuh Allah swt. Ketika Khilafah runtuh, “payung” yang selama ini melindungi umat Islam pun koyak dan sirna. Tak ada lagi institusi politik yang menolong dan melindungi umat Islam ketika mereka diserang musuh. Akibatnya, kaum muslim di seluruh dunia mengalami lara dan nestapa yang tak kunjung usai.


Berkaitan dengan toleransi yang tak mampu berlenggang dalam sistem demokrasi, sistem Islam selama 1300 tahun lamanya telah membuktikan bahwa Khilafah mampu menaungi hampir 2/3 dunia yang heterogen dengan berbagai perbedaan yang dikemas dalam interaksi masyarakat yang menjunjung tinggi toleransi dalam sebuah keadilan dan keteraturan kehidupan. Islam memandang bahwa keberagaman manusia merupakan suatu hal yang alami dan Islam mengakui bahwa masalah agama dan keyakinan itu adalah hak individu. Adapun dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, harus tetap ada satu disiplin aturan hidup yang dijalankan.


Maka, sudah saatnya umat islam menyadari pentingnya penegakkan Khilafah di muka bumi dengan pengaturan berasal dari Sang Pencipta. Dalam naungan Khilafah, kesatuan umat Islam yang didasari atas keimanan dan keridaan akan menjadi kekuatan dan menjadi marwah bagi kaum muslimin di mata para musuhnya.