Oleh: Aina Syahidah

Sejumlah negara dilanda protes sosial mulai dari Myanmar hingga Kazakhstan (cnnIndonesia.com, 08/01/2022).

Di Myanmar sendiri, sejak Aung San Suu Kyi,
digulingkan dari bangku pemerintahan oleh junta militer, negeri yang telah membantai ribuan nyawa etnis Rohingya ini menghadapi krisis politik yang tak berkesudahan.

Menurut catatan Kelompok aktivis Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP),
setidaknya krisis politik di negeri ini telah menewaskan lebih dari seribu orang yang tak bersalah sejak kudeta hingga Agustus 2021 silam.

Angka ini disinyalir masih terus bertambah mengingat gelombang demonstrasi masih terus terjadi. Bahkan pada Natal Desember 2021, 35 orang termaksud anak-anak tewas dibakar dalam bentrok sipil dan kelompok junta militer.

Pasukan Pertahanan Nasional Karenni (KNDF) juga mengaku telah mengubur lebih dari 30 jasad yang terbakar akibat korban serangan brutal junta militer.

Sungguh konflik yang amat mengerikan betapa nyawa manusia amat tiada artinya.

Menepi dari dataran Timur Jauh Asia Tenggara. Kita beralih ke Asia Tengah Kazakhstan, negeri muslim yang di masa lalu pernah menjadi tempat beradunya beberapa ideologi dunia juga tengah dilanda gelombamg demonstrasi.

Mengutip dari ABC News, 28 polisi meninggal ada petugas yang ditemukan dipenggal. Selain itu, lebih dari 3.000 orang telah ditahan akibat kerusuhan ini.

Kazakhtan bergejolak lantaran dipicu oleh kemarahan rakyat atas naiknya harga baham bakar berkarbon rendah yang menjadi salah satu kebutuhan utama penduduk Kazakhstan.

Walau pemerintah sempat menurunkan harga. Namun, amarah rakyat sudah tak mampu dibendung. Hal ini dikarenakan kemarahan mereka telah berlapis-lapis mulai dari potret pemerintahan Kazakhstan yang otoriter, elite politiknya korup. Serta jurang kesenjangan sosial dan ekonomi yang begitu lebar.

Tatanan Dunia Menjadi Tertuduh?

Berbicara tentang protes sosial dan gelombang demonstrasi dunia sesungguhnya bukan lah hal baru di sistem dan kondisi hari ini.

Di dalam buku yang ditulis oleh Hendri Teja dkk (2019) yang berjudul Suara Rakyat Suara Tuhan, setidaknya telah terjadi banyak aksi protes sosial dari masyarakat ke pemerintah di penghujung tahun 2019 silam.

Hendri dkk mengulas tujuh poin yang ditemukan sebagai penyulut kemarahan rakyat di berbagai wilayah baik dari Asia, Afrika, Eropa, sampai Amerika Latin. Ketujuh poin isu itu diantaranya:

1) ketidakadilan dan ketimpangan; 2) himpitan beban hidup kalangan bawah; 3) kebijakan pemerintah yang tak berpihak kepada rakyat; 4) kebebasan dan hak rakyat yang dikebiri; 5) pemerintah yang korup dan haus kekuasaan; 6) pemilihan umum yang curang; 7) ketidakpeduliaan pada isu lingkungan.

Dan semua itu bermuara pada sistem atau tatanan yang ada hari ini. Yang telah menjadi pijakan dari lahirnya berbagai kebijakan. Dimana dalam sistem kehidupan Kapitalisme, sumber kehidupan rakyat, yakni aset kekayaan alam diliberalisasi. Sehingga rakyat bukan lagi menjadi pemilik utama.

Hal- hal yang berkaitan dengan hajat publik pun diprivatisasi dan diserahkan mekanisme pengaturan dan pemenuhannya kepada pasar. Negara dicukupkan geraknya hanya sebagai regulator semata.

Alhasil, harga kebutuhan pokok rakyat naik gila-gilaan sampai sulit ditebus oleh masyarakat kelas bawah. Jurang kemiskinan dan ketimpangan antara si Kaya dan si Miskin pun semakin lebar terjadi.

Di samping itu, eksistensi sistem Kapitalisme ini juga dijaga oleh pemerintahan Demokrasi yang cenderung anti kritik dan otoriter.

Rezim yang berkuasa cenderung untuk melanggengkan kekuasaannya walau dengan melakukan berbagai cara. Sebagaimana yang terjadi di Kazakhstan, Sultan Nazarbayev yang pernah memerintah negeri ini selama tiga dekade dinilai masih tetap mengendalikan Kazakhstan dari balik layar. Alhasil, rakyat yang mulai muak pun melakukan pemberontakan. Dan ini semakin membuat ketidakstabilan di wilayah tersebut.

Narasi kebebasan berpendapat juga menjadi absurb kala mereka yang protes terhadap kebijakan kerap disambut dengan tindakan- tindakan represif dari rezim yang bersangkutan. Yang tak ingin kelanggengan singgasananya terganggu.

Sungguh, inilah potret pengaturan kehidupan rakyat di dalam sistem Kapitalisme Demokrasi yang cenderung melahirkan tirani bagi golongan masyarakat kelas bawah.

Simpulan

Peristiwa ini harusnya menjadi pelajaran berharga bagi umat khususnya bagi kaum muslimin. Kazakhstan yang hari ini bergejolak merupakan negeri muslim yang kaya akan hasil alamnya tapi rakyatnya harus hidup di bawah- bawah tirani rezim yang otoriter. Dan menderita karenanya.

Tak hanya Kazakhstan, negeri muslim yang lainnya pun ramai mengalami hal yang sama. Ini menunjukan bahwa tatanan dunia saat ini hanya memakmurkan segelintir elit yang bermodal besar. Rakyat kecil nan papah jauh dari bayang- bayang kemakmuran.

Di dalam kacamata syariah, urusan pengaturan dan pemenuhan hajat hidup publik adalah tanggungjawab penuh negara. Yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. Maka mau tidak mau, negara harus hadir dan berpihak kepada rakyat. Memastikan keterpenuhan kebutuhan rakyatnya dan terlarang menerapkan kebijakan yang menyulitkan mereka.

Sebagaimana hadis Nabi SAW, “Sungguh pemimpin itu adalah ra’in (pelindung) atas rakyatnya.” Wallahu’alam bishowab