Oleh: Astri Ahya Ningrum, S. Pd (Praktisi Pendidikan)

Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, ternyata perannya begitu sangat luar biasa, baik dalam memberikan ilmu pengetahuan, memberikan pendidikan akhlak yang baik dan benar. Selain itu, guru juga bertugas memberikan motivasi kepada peserta didik agar peserta didiknya terus maju demi menyongsong peradaban gemilang di masa yang akan datang.

Dibalik peran guru yang begitu sangat luar biasa penting, ternyata juga dapat menjadi musuh yang nyata bagi peserta didiknya. Baru-baru ini terdengar kabar bahwa ada salah satu sekolah di kota Medan, guru dan siswanya sedang bermasalah.

Diduga oknum guru di SMPN 28 Medan, menghina siswa miskin dan bodoh dan menuai berbagai tanggapan dari jajaran pemerintahan. Namun, masih banyak yang belum mengetahui fakta-fakta terbaru terkait permasalahan guru menghina siswanya ini, di antaranya bahwa hinaan tersebut bukan kali pertama dilontarkan oleh sang wali kelasnya. (tribunmedan.com, 12/01/2022).

Menghina itu bukan perbuatan yang baik dan benar bahkan tidak bijak sama sekali, terlebih yang mengatakan adalah guru sang pemberi ilmu. Melontarkan kata bodoh, miskin, seharusnya seorang guru tidak melakukan hal yang demikian. Akan menjadi apa peserta didik yang diajar? Bisa-bisa akan tumbuh menjadi anak yang kurang ajar, sebab itulah yang dicontohkan.

Beginilah buah hidup di dalam naungan kapitalisme-sekularisme. Salah satu dampaknya melahirkan guru yang nihil akhlak. Saat guru tak bisa lagi untuk digugu, mampukah peserta didik berilmu? Jika ternyata banyak guru yang demikian dalam perbuatannya, bagaimana nasib peserta didik yang lain, yang suaranya tidak di dengar publik?

Semakin terlihat jelas, kecacatan dari sistem yang diterapkan saat ini. Faktanya, sangat lemah untuk melahirkan guru yang baik akhlaknya. Sedangkan akhlak itu adalah hal yang sangat penting yang harus kita miliki apalagi seorang guru, yang setiap perkataan, perbuatannya bisa menjadi contoh bagi para peserta didiknya. Jika tidak memiliki akhlak yang baik bagaimana akan mendidik para peserta didik?

Akhlak yang baik tentu tidak ada dengan sendirinya, agar kita mendapatkannya, maka perlu ada usaha terlebih dahulu. Sebab, akhlak yang baik itu adalah buah dari penerapan hukum syariat. Sedangkan saat ini hukum-hukum Islam tidak diterapkan secara sempurna. Maka, sudah seharusnya kita berjuang agar syariah Islam bisa diterapkan secara sempurna. Agar tidak ada lagi guru yang menghina peserta didiknya sendiri. Terlebih, menghina sangat dilarang di dalam Islam, yang diperbolehkan adalah kita harus saling menyayangi satu sama lain.

Rasulullah Saw. bersabda: “Cintailah manusia sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri.” (h.r. Bukhari).

Hanya dengan sistem Islamlah hal ini bisa diwujudkan. Menjadi guru dengan akhlak yang baik, mendidik siswa agar berakhlak baik, semua itu ada di dalam sistem Islam bukan yang lain.

Wallahualam bissawab.