Oleh: Siti Nurjannah

Sudah jatuh tertimpa tangga. Begitulah kiranya pepatah yang tepat untuk melengkapi penderitaan masyarakat indonesia.
Ditengah merangkak nya semua kebutuhan pokok pangan masyarakat, di susul juga dengan kenaikan harga BBM yang menggila.
Sebagaimana yang di lansir dari Jakarta, CNBC Indonesia – PT Pertamina (Persero) resmi menaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis RON 92 atau Pertamax menjadi Rp 12.500 – Rp 13.000 per liter mulai 1 April. Pemerintah pun berencana akan mensubsidi penuh Pertalite.
Melonjaknya harga Pertamax dikhawatirkan akan membuat masyarakat beralih menggunakan bensin jenis Pertalite, yang direncanakan akan disubsidi penuh oleh pemerintah. Pada akhirnya dampak beban untuk menanggung subsidi tersebut dari APBN akan bengkak.

Kenaikan pertamax dengan jumlah/prosentase besar menegaskan tata Kelola migas yg sangat kapitalistik, menimbang harga keekonomian (agar bisa ekspor) dan mengabaikan kemaslahatan rakyat, serta mencari keuntungan sebesar-besarnya, meskipun dengan cara mengorbankan rakyatnya.
Lagi dan lagi, rakyat yang menjadi korban keberingasan dan keserakahan rezim kapitalis.

PT Pertamina Patra Niaga mengatakan kenaikan Pertamax dipicu harga minyak dunia yang melambung sehingga mendorong harga minyak mentah Indonesia pun mencapai mencapai US$114,55 (Rp1,64 juta) per barel pada 24/3/2022.
Dalih naiknya minyak mentah dunia yang berimbas pada kenaikan harga BBM nonsubsidi ini nyatanya menuai kritik keras berbagai pihak, salah satunya ekonom senior Rizal Ramli. Menurutnya, kenaikan harga tersebut membuktikan pemerintah tidak mampu mengantisipasi kenaikan harga minyak mentah dunia.
Rizal lantas membandingkan BBM dengan jenis research octane number (RON) yang sama di Malaysia masih dijual dengan harga Rp8.500, sedangkan Indonesia Rp12.500 per liter.

Solusi Peralihan BBM subsidi ke jenis pertalite juga tidak efektif, karena fakta di lapangan mulai menunjukkan kelangkaan jenis pertalite. Belum lagi kelangkaan BBM jenis Solar, pun ikut mewarnai.
Jika Pertalite makin langka di pasaran, mau tidak mau masyarakat harus membeli Pertamax yang harganya lebih mahal. Dapat dipastikan, setiap kali harga Pertamax naik, beban rakyat pun makin berat, apalagi di tengah harga kebutuhan pokok lain yang terus meningkat.
Penolakan demi penolakan terus di gaungkan. Namun pemerintah tutup mata dan telinga, seolah olah mereka tidak sedang mendzolimi rakyatnya. Padahal sejatinya rakyat teramat sangat menderita.

Inilah wajah asli sistem ekonomi yang bathil. Sistem Demokrasi melahirkan pemimpin yang dzolim. Aturan yang di buat-buat sesuai dengan hawa nafsu mereka. Tidak perduli rakyat yang terkena imbasnya, yang penting hajat penguasa dan pengusaha serta para koorporasi bisa terpenuhi.

Islam memandang BBM adalah barang public yg harus dikelola negara demi kemaslahatan rakyat. Islam memerintahkan negara memberlakukan system ekonomi Islam.
Dalam pandangan Islam, sumber daya alam yang jumlahnya besar, seperti minyak bumi, merupakan harta milik umum sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Kaum muslim bersekutu dalam tiga perkara: air, padang rumput, dan api.” (HR Abu Daud)

Pengelolaannya pun wajib dilakukan secara langsung oleh Khalifah sebagai kepala negara yang berfungsi sebagai pelindung dan pelayan masyarakat. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Al-Imam (Khalifah) itu perisai, orang-orang berlindung di belakangnya.” (HR Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Daud)

Pengelolaan minyak bumi ini wajib dilakukan negara secara mandiri dan mendistribusikannya secara adil ke tengah masyarakat. Negara hadir memang untuk melindungi kepentingan umat dengan tidak mengambil keuntungan, kecuali biaya produksi yang layak. Kalaupun negara mengambil keuntungan, hasilnya dikembalikan lagi ke masyarakat dalam berbagai bentuk.

Dengan demikian, pemerintah tidak boleh menyerahkan pengelolaan minyak bumi kepada pihak swasta, apalagi asing. Harga BBM dapat dipastikan murah (bahkan gratis) dan mudah diakses seluruh rakyat. Hasil pengelolaan tersebut juga dapat diberikan dalam bentuk pelayanan kesehatan, pendidikan, atau kebutuhan publik lainnya secara gratis.

Sungguh, sistem Islam akan melahirkan para pemimpin yang bertakwa, yakni mereka yang menjadikan kepemimpinan sebagai sebuah amanah yang akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah Swt.
Wallahualam bisshowwab.