Oleh: Ani Hayati,S.HI (Pemerhati Masalah Publik)

Fenomena Citayam Fashion Week menjadi perbincangan akhir-akhir ini. Remaja asal Citayam dan sekitarnya disebut meramaikan kawasan di Sudirman, Jakarta Pusat dengan busana yang nyentrik bak peragaan busana. Berita ini viral hingga mancanegara. Namun, hal ini menuai kontradiksi.

Sebagaimana menurut Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Luluk Dwi Kumalasari, S.Sos, . M.Si, memberikan tanggapannya terkait Citayam Fashion Week. Menurutnya, fenomena ini adalah hal yang wajar terjadi, didasari pada naluri manusia untuk bersosialisasi dan membentuk kelompok sesuai karakteristik dan tujuan tertentu (Detik.com / 19/07/2022).

Disisi lain, Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Pusat justru melarang kegiatan Citayam Fashion Week di atas zebra cross kawasan Dukuh Atas, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Pasalnya, semua pihak diminta mematuhi aturan yang ada dan mengembalikan zebra cross ke fungsi awal (News 21/7/2022).

Miris, kelakuan generasi saat ini. Citayam Fashion Week sebuah aksi yang dilakukan oleh sekelompok remaja yang berkerumun di jalan, berlenggak-lenggok di tengah jalan, memamerkan busananya yang tidak sesuai dengan budaya ketimuran, ditambah lagi ada dating campaign yang itu di blow-up besar-besaran oleh media yang hal tersebut banyak mendapat tanggapan positif dari masyarakat.

Aneh aja ketika ada sekelompok yang mengajak kebaikan itu justru dipersoalkan, sementara CFW yang jelas menggangu pengendara umum dan mengkampanyekan pacaran yang jelas bertentangan dengan nilai Islam justru dianggap wajar.

Seyogianya fenomena CFW ini bisa mengubah standar pandangan para remaja yang seharusnya terikat dengan (hukum) Islam, justru yang dicari saat ini yakni kevirallan dan bisa eksis, bahkan bisa menghasilkan duit.

Padahal fenomena ini adalah aktivitas yang mengusik remaja kita saat ini. Sebut saja, fenomena CFW ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa remaja kita sedang mengalami krisis. Serbuan pemikiran tentang kebebasan baik di dunia nyata maupun media sosial telah mengubah mindset mereka akan kehidupan. Mereka begitu mendewakan kebebasan dan tak lagi berpikir jernih untuk masa depannya.

Aktivitas yang sekedar main, nongkrong dan membuat konten disebut sebagai aktivitas kreatif menurut sudut pandang orang-orang mendewakan kebebasan. Padahal hal ini adalah aktivitas yang menyia-nyiakan waktu untuk hal yang tidak bermanfaat.

Kedua, aktivitas tersebut jelas ada campur baur dan ikhtilath, dalam pandangan remaja saat ini dianggap wajar, padahal hal ini bertentangan dengan aturan Illahi. Sebab, dalamnya ada banyak hal yang justru mengantarkan pada kemaksiatan, misalnya khalwat (pacaran), berbonceng yang bukan muhrim dan lainnya.

Semua ini hanya mungkin terjadi jika ide kebebasan sudah mandarah daging dan mendapat dukungan baik berupa fasilitas maupun dukungan dari sistem yang ada.

Ketiga, aktualisasi diri yang dilakukan para remaja ini sekaligus mengkonfirmasi bahwa ada persoalan krisis identitas pada diri mereka. Institusi keluarga tak lagi mampu mengarahkan para remaja ini ke arah yang seharusnya. Demikian pula dengan kontrol sosial di tengah masyarakat. Jelas ini menunjukkan bahwa masyarakat saat ini sedang mengalami problematika yang serius yang menimpa generasi penerus mereka.

Semua ini akibat sistem sekuler yang diemban negeri ini telah merusak tatanan kehidupan umat manusia. Peran generasi yang seharusnya menjadi generasi penerus tongkat estafet kepemimpinan dan membawa peradaban bangsa menuju peradaban mulia justru dihancurkan melalui berbagai serangan budaya dan pemikiran.

Disisi lain, negara yang seharusnya hadir untuk melindungi mereka dari serangan tersebut, namun sayangnya negara justru ikut andil dan mendukung aktivitas yang merusak generasi dengan dalih kebebasan berperilaku dan sebagiannya. Inilah potret buram sistem kapitalisme yang menjauhkan peran negara dalam melindungi rakyatnya, termaksud generasi.

Oleh sebab itu sudah saatnya kita sadar dan kembali kepada tatanan kehidupan yang mulai yang dibawa oleh Rasulullah Saw. Sistem tersebut yakni Islam.

Islam juga menaruh perhatian yang besar pada kehidupan remaja, hasilnya terlihat dari sistem pendidikan pada masa kejayaan Islam. Saat itu banyak prestasi membanggakan yang diukir oleh para pemudanya, seperti Abdurrahman an-Nashir dari Kekhalifahan Bani Umayyah yang menjadi pemimpin pada usia 22 tahun. Di bidang militer dan pemerintahan, sosok Muhammad al-Fatih, Umar bin Abdul al-Aziz, dan Salahuddin al-Ayyubi menjadi perhatian dunia karena keistimewaan mereka pada usia muda

Pendidikan berbasis sistem Islam memadukan tiga peran sentral yang berpengaruh pada proses perkembangan generasi, yaitu keluarga, masyarakat, dan yang paling penting adalah negara. Negara wajib menyediakan layanan pendidikan, mulai dari kurikulum berbasis akidah Islam hingga sarana yang memadai. Negara juga melakukan kontrol sosial termasuk pergaulan remaja dengan melakukan pengawasan atas penyelenggaraan sistem Islam secara menyeluruh.

Inilah solusi hakiki yang dinanti untuk menyelesaikan segala problematik kehidupan remaja masa kini. Kedatangannya sudah pasti melalui bisyarah (kabar baik) dari Baginda Nabi. Wallahua’lam