Oleh: Datin Hasana Bidari, S. Pd.

Fenomena  Citayam Fashion Week (CFW) semakin naik daun dan semakin eksis, serta menjadi buah bibir masyarakat dari berbagai kalangan. CFW ini semakin tenar, aksinya merebak luas dari sejumlah daerah, media-media pun semakin memblow up aksi ini, baik media cetak maupun media elektronik semakin membanjiri berita aksi ini. Artis-artis juga tidak ketinggalan ikut semangat mempopulerkan CFW ini.

Aksi Citayam Fashion Week ini juga mendapat reaksi berupa dukungan sejumlah pejabat negeri ini, salah satunya Wagub DKI, Ahmad Riza Patria. Dia mengatakan, pihaknya memang mendukung kreativitas berekspresi anak-anak dengan melakukan fashion show di Dukuh Atas, Jakarta Pusat. Namun demikian, seperti disampaikan pihak kepolisian, kata dia, “Akan lebih baik jika acara tersebut tidak dilakukan di jalanan atau zebra cross”. (Republika.co.id)

“Sebelum pukul 22.00 WIB sebaiknya sudah di rumah. Ini bagian untuk mencegah kekerasan, pelecehan terhadap anak. Karena angka kekerasan meningkat, prostitusi daring juga meningkat,” kata Riza di akun instagramnya, dikutip Ahad (24/7/2022).

Aksi Citayam Fashion Week ini mendapat sorotan tajam dari berbagai lapisan masyarakat, tentu saja ada pro dan kontra. Bagi kalangan yang pro dengan aksi ini, karena menganggap positif aksi ini sebagai buah dari kreativitas dan seni sebagai potensi anak-anak muda yang patut didukung dan dikembangkan.

Namun sebagian kalangan yang kontra dengan aksi ini berpendapat bahwa aksi ini dapat menganggu ketertiban umum, menimbulkan sampah yang berserakan dan tidak ada nilai positif bagi anak muda.

Suramnya Generasi Muda di Alam kapitalisme

Aksi Citayam Fashion Week (CFW) menjadi lahan subur bagi industri kapitalis, anak-anak remaja dieksploitasi buat diambil keuntungan bagi kaum kapitalis, industri – industri fashion banjir menyediakan tren pakaian ala-ala anak muda. Tentunya hal ini menjadi keuntungan tersendiri bagi industri kapitalis.

Sedangkan sisi negatif lainnya dari aksi CFW ini adalah lahan subur merebaknya aktivitas pacaran, berbicara hal yang tidak berfaedah, campur baur laki-laki dan perempuan, hedonisme, serta aktivitas nongkrong-nongkrong menghabiskan waktu dengan sia-sia.

Inilah demokrasi kapitalisme yang melahirkan kebebasan-kebebasan (liberalisme). Salah satunya kebebasan bertingkah laku, kebebasan-kebebasan yang tidak bertanggung jawab, kebebasan – kebebasan yang tidak terikat dengan aturan Allah SWT.

Sungguh remaja-remaja hari ini korban keganasan sistem kapitalisme, sistem yang merenggut masa depan remaja harapan bangsa ini.

Islam berharap kepada pemuda

Pemuda adalah agen perubahan (agent of change), pemuda hari ini calon pemimpin – pemimpin masa depan, sungguh bangsa ini berharap banyak kepada pemuda hari ini.

Bangsa ini berharap pemimpin- pemimpin masa depan kelak pemuda-pemuda visioner yang berkarakter sesuai syariah.

Untuk melahirkan pemuda-pemuda yang berkualitas ini hendaknya ada sinergi antara didikan orang tua, masyarakat, sistem pendidikan serta negara.

Orang tua hendaknya menjadi benteng pertama mendidik anak-anaknya agar terikat hukum Allah dan memantau pergaulan anak-anak, memastikan anak-anak agar tidak ikut-ikutan fashion yang melanggar hukum syariah.

Dalam sistem pendidikan, hendaknya ada peran guru dalam mendidik anak-anak agar tidak terjebak faham hedonisme, tidak latah atas tren yang tidak sesuai syariah.

Selain itu amar ma’ruf masyararat, apabila melihat anak-anak muda yang melakukan kemaksiatan-kemasiatan yang dibungkus manis atas nama kreativitas-kreativitas dan seni, maka hendaknya ada teguran dari masyarakat atas pelanggaran-pelanggaran syariah tersebut.

Demikian juga negera hendaknya memiliki kontribusi yang jelas dengan menerapkan aturan-aturan yang tegas terhadap remaja yang mengganggu ketertiban umum dan pelanggaran aturan – aturan Allah.

Pemerintahpun harusnya tidak mendukung aksi CFW ini, apalagi memfasilitasinya, karena jelas aksi ini bertentangan dengan syariah.

Cukuplah generasi-generasi terdahulu yang menjadi contoh atas keberhasilan pemuda dalam masa kegemilangan emas peradaban Islam pada masanya, seperti Muhammad Al Fatih yang mampu menaklukkan Konstantinopel di usia 25 tahun di Romawi Timur.

Cukuplah Alquran dan Assunnah sebagai pegangan, maka akan selamat baik dunia maupun akhirat.

Maka alangkah baiknya usia produktif remaja hari ini digunakan ke hal-hal yang bermanfaat baik dunia maupun di akhirat.

“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggung jawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya”
(HR. Tirmidzi)

Wallahu’alam bishowab.