Oleh: Yuliana Nurkhayati

Seperti tidak ada berhentinya, kasus bunuh diri kembali berulang. Kali ini karena tidak lolos seleksi PTN ( Perguruan Tinggi Negeri ) seorang pelajar memutuskan bunuh diri dengan meminum alkohol dan obat hingga overdosis. Di kasus yang lain 7 tahun tidak lulus kuliah seorang mahasiswa nekat mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. Mengapa pelajar saat ini mudah berpikiran pendek dan rapuh jiwanya ya?

Tren kasus bunuh diri tiap tahun terus meningkat. Pemberitaan tidak ada habisnya. Selalu ada kasus remaja bahkan orang dewasa mengakhiri hidupnya dengan cara tragis. Penyebab bunuh diri biasanya karena putus cinta, gagal ujian, perundungan, putus asa dan kesulitan ekonomi. Kak Seto dalam kunjungan ke Bali menerangkan aksi bunuh diri yang dilakukan para remaja, menurutnya bagian dari adanya gangguan psikologis pada anak dan remaja.
“Pada dasarnya karena tidak adanya rasa percaya diri yang kuat. Ini harus mendapat bimbingan untuk kesehatan mental remaja,” serunya. (jpnn.com, 11/06/22).

Kondisi remaja saat ini memang tidak stabil. Jiwa mereka mudah rapuh dan emosional. Pergaulan bebas menyebabkan mereka berpikiran pendek. Mudah terserang ketidakpercayaan diri. Terlebih mereka latah untuk selalu ikut-ikutan yang sedang viral tanpa menyaring baik dan buruknya. Kita dapati pula, remaja saat ini yang mudah berkata kotor, berani bertindak kriminal, menyakiti oranglain tanpa rasa bersalah bahkan penuh rasa bangga.

Maka dengan kondisi remaja saat ini, tidak mengherankan bila mereka tidak berpikiran panjang. Alih-alih menyelesaikan masalah mencari jalan keluar, mereka malah menjadikan bunuh diri sebagai solusi atas permasalahan hidup.

Semua ini tidak terjadi dengan tiba-tiba. Pengaruh kehidupan yang sekuler kapitalistik menjauhkan para remaja dari agama. Agama digunakan hanya saat akan beribadah saja. Dalam kehidupan, agama tidak dijadikan tuntunan. Akibatnya para pelajar hidup bebas ala Barat, bebas melakukan apapun asal itu membuat bahagia. Tanpa memikirkan apakah melanggar norma agama atau tidak. Para pelajar seperti kehilangan arah dan bingung menjalani hidupnya. Saat ada tekanan hidup datang, mereka lebih memilih jalan pintas mengakhiri hidupnya.

Sudah seharusnya negara segera bertindak menyelamatkan generasi penerus bangsa. Campakkan sistem Sekularisme Kapitalisme yang jelas merusak kepribadian para remaja. Kembalilah pada Sistem Islam yang mampu menciptakan generasi yang tangguh dan kuat jiwanya.