Oleh: Syafiyah

Para remaja berbondong-bondong nongkrong di Pusat Jakarta menjadi tren saat ini. Fenomena ini mereka sebut dengan Citayam Fashion Week dikarenakan kebanyakan anak muda yang nongkrong berasal dari Citayam dengan pakaian yang unik-unik. Bahkan bukan hanya dari Citayam, tetapi juga dari Depok dan Bojonggede banyak yang berkunjung di saat waktu senggang hanya untuk bermain atau menunjukkan eksistensi diri dengan fashion mereka.

Cara berpakaian mereka yang unik ini tentu mengundang beberapa influencer untuk mewawancarai mereka. Pertanyaan yang dilontarkan pun menyangkut kehidupan sehari-hari. Dari influencer tersebut, beberapa dari mereka menyebarkan video ke tik tok hingga akhirnya menyebar dan telah ditonton oleh banyak orang. Komentar yang dilontarkan pun beragam, mulai dari yang memuji, mengkritik, bahkan menghina.

Karena video yang telah disebar seperti, tak sedikit anak muda yang mulai tertarik untuk menghadiri jalan Sudirman dengan pakaian unik mereka, berharap ada influencer yang mewawancarai mereka. Pada dasarnya, beberapa dari mereka ada yang datang dengan niat untuk bisa ‘terkenal’ jalur tik tok.

Semakin ramainya jalanan dan menarik minat anak muda dalam bidang fashion, membuat mereka menciptakan acara catwalk di jalan raya, tepatnya di zebra cross. Dari sana, kita dapat melihat jelas bagaimana cara mereka berpakaian.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno pun mendukung hal ini karena fenomena tersebut menjadi wadah untuk anak muda lebih bisa berekspresi. Selain itu, penjualan UMKM pun naik drastis, maka dari itu tidak ada dari pihak pemkot yang melarang hal ini.

Namun, sayangnya hal ini juga terdapat dampak buruk yang terjadi. Kebebasan berekspresi pada fenomena Citayam Fashion Week menjadi disalah artikan oleh beberapa orang, di antaranya bermunculan mereka kaum laki-laki yang berpakaian seperti perempuan yang dengan percaya dirinya menunjukkan diri, bahkan merayu beberapa influencer. Selain itu, catwalk yang terjadi di jalan raya pun menghambat kendaraan berlalu lintas, belum lagi sampah yang berserakan.

Masih banyak dampak buruk lainnya, jika dipandang dari sudut pandang Islam. Fenomena Citayam Fashion Week menjadi ajang mencari pacar, bahkan mengumbar dosa. Banyak mereka anak muda yang bangga ketika diwawancarai oleh pacar mereka. Mirisnya, ada dari mereka yang beragama Islam. Bercampur baur terjadi antara perempuan dan laki-laki tanpa ada batasan.

Padahal, Indonesia menjadi negara dengan mayoritas beragama Islam. Mirisnya diajang CFW ini, tentu saja terdapat banyak anak muda yang beragama Islam. Namun, sangat disayangkan, cara mereka berpakaian tidak menunjukkan bagaimana seharusnya seorang muslim berpakaian. Banyak perempuan memakai crop top, tidak memakai hijab, dan juga banyak yang bersolek agar dilihat cantik oleh lawan jenis yang bukan mahram. Padahal, sudah jelas itu dilarang oleh Islam sendiri dan tertulis di dalam Al-Quran.

Lalu, bagaimana cara kita mengatasi hal ini? Pada hari Rabu, 26 Juli 2022, satpol PP bersama beberapa polisi berhasil menertibkan kerumunan anak muda Citayam Fashion Week, mereka membubarkan acara tersebut dikarenakan lalu lintas yang sulit bergerak dan semakin banyak pengunjung yang datang hingga membuat lingkungan kotor. Mereka juga mematikan lampu-lampu jalanan pada malam hari dan berjaga agar tak ada lagi gerombolan anak muda.

Selanjutnya, bagaimana cara mengatasi anak muda yang cara berpakaiannya masih melenceng dari aturan islam? Kebanyakan dari mereka ada yang putus sekolah sehingga tidak mendapat pengajaran agama. Penguasa seharusnya bisa memberikan kesempatan untuk anak muda tersebut untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Sehingga mereka mendapatkan pengajaran tentang cara berpakaian yang benar dalam Islam untuk mereka yang beragama Islam. Selain aturan berpakaian, aturan dalam pergaulan pun harus diberikan. Hal ini membutuhkan sistem yang kaffah agar sistem pergaulan Islam bisa diterapkan di kehidupan sehari-hari.