Oleh. Dewi Asiya [Pemerhati masalah sosial ]

Pondok pesantren merupakan representasi pendidikan islam yang akan mendidik generasi ke arah yang gemilang. Namun baru baru ini kabar tak menyenangkan datang dari pesantren. Astagfirullah al’dziim, heboh di jagat nusantara ini, salah satu dari putra kyai di Jombang Jawa Timur melakukan pelecehan seksual terhadap sejumlah santriwati, sungguh memilukan dan memalukan bagi lembaga pondok pesantren, pasalnya hal itu dilakukan oleh putra kyai yang notabene adalah orang yang dianggap memiliki ilmu serta ketaatan yang tinggi dan parahnya juga dilakukan di dalam lembaga pesantren yang menjadi tempat untuk menimba ilmu agama.

Komnas HAM meminta aparat penegak hukum khususnya kepolisian sudah semestinya menggunakan UU TPKS (undang undang tindak pidana kekerasan seksual) untuk menindak para pelaku terduga sesegera mungkin.

Komnas HAM juga mengimbau kepada semua pihak untuk menyadari bahwa penegakan hukum khususnya UU TPKS terhadap terduga pelaku kekerasan seksual adalah upaya untuk melindungi harkat dan Martabat manusia serta HAM sebagai warga negara.

Shofyan aspidum kejati jatim menyampaiakn ada 3 dakwaan terhadap bechi, yakni tersangka pelaku kekerasan seksual akan didakwakan pasal 285 KUHP jo pasal 65 KUHP ancaman penjara 12 tahun atau ke dua pada 289 jo pasal 65 KUHP hukuman penjara 9 tahun atau pasal 294 ayat 2 KUHP jo pasal 65 penjara 7 tahun (detik news.detik.com 10/7/2022).

Berita pelecehan seksual di wilayah pondok pesantren ini serasa mengiris hati, pilu yang mendalam bagi dunia pendidikan islam. Disaat umat islam saat ini memilih pondok pesantren sebagai tempat membina para remaja dan menjauhkannya dari pengaruh buruk yang ada di luar pesantren, dengan viralnya berita ini menjadikan keraguan bagi umat islam yang ingin memasukkan anaknya ke pesantren.

Selain berita pelecehan seksual yang dilakukan oleh putra kyai ada juga peristiwa viral yang menghebohkan jagat nusantara yaitu penyelewengan dana ACT, diduga dana diselewengkan oleh pengelola ACT, padahal ACT sudah dipercaya oleh umat sebagai penyalur dana sumbangan dana sosial.

Sebenarnya kalau kita jujur menoleh kebelakang kasus kasus seperti ini banyak terjadi di lembaga manapun, karena memang sistem yang diterapkan dalam negeri ini adalah sistem kapitalis sekuler liberal memisahkan agama dari kehidupan, yang cenderung terjadi penyimpangan, namun kenapa ketika hal itu melanda lembaga Islam atau yang dikelola oleh umat Islam atau yang bersimbul Islam, seakan menjadi berita yang memenuhi jagad media sosial. Namun yang menjadi pertanyaan, mengapa jika yang melakukan adalah lembaga yang tidak islami dan tidak dikelola oleh umat Islam sepi pemberitaan? Ada apa dibalik semua ini?

Duka mendalam bagi lembaga yang mengatas namakan islam namun tidak mencerminkan perilaku islam. Ilmu yang ada hanya tertulis dalam kitab dan buku begitu pula diskusi yang diadakan hanya berhenti pada ibadah ritual dan perilaku moral saja. Inilah hasil dari pemisahan antara agama dan kehidupan (sekuler) agama dipelajari hanya sekedar teori, kosong dari aplikasi. Umat semakin jauh dari agamanya, akhirnya dia berperilaku semaunya sendiri bebas melakukan apapun yang ia sukai tidak lagi menengok pada ilmu agama yang dipelajarinya.

Dan ternyata pada kondisi saat ini tidak hanya berhenti pada sekulerisme. Fenomena seperti ternyata ada semacam pengarusan opini yang sudah disetting sedemikian rupa agar umat menjauhi lembaga lembaga yang berlebel Islam .

Hal ini senada dengan buku “Civil Democratic Islam Partners, Resorcers and Strategies” karya Cheryl Benard. Buku ini menggambarkan langkah-langkah religius building dengan artian membangun Islam alternatif yang lebih sesuai dengan kepentingan Barat, bagaimana caranya?

Ada dua diantaranya:
Pertama, encouraging journalists to investigate issues of corruption, hypocrisy, and immoralit (media didorong untuk mempublikasikan secara massif tentang kesalahan dan kelemahan para tokoh atau orang yang mengelola pesantren dan lembaga keislaman, seperti korupsi, kemunafikannya, tindakan tindakan amoral pelecehan seksual, perkosaan, penyalah gunaan dana, semua itu dimaksudkan untuk Memutus mata rantai kepercayaan masyarakat pada lembaga lembaga Islam.

Kedua, exposing their relationships with illegal groups and activities. memunculkan ke hadapan publik untuk mengaitkan tokoh atau pengelola lembaga dengan kelompok yang dicap teroris, radikal ektremis agar rakyat menjauhi mereka dan tidak menyalurkan dana ke lembaga tersebut.

Diakui atau tidak hasilnya sudah nyata umat tidak lagi percaya pada lembaga-lembaga islam walaupun tidak semuanya.

Sungguh besar potensi umat islam baik dari sisi pendanaan, keilmuan, intelektual, karena islam memiliki aturan yang sempurna dan hal ini berpotensi untuk menjadikan islam bangkit kembali seperti dahulu dimasa kejayaannya islam memimpin dunia selama 13 abad, inilah yang ditakuti oleh Barat jika potensi umat Islam bangkit kembali.

Maka upaya menjauhkan umat dari ajaran agama nya akan terus diwujudkan.

Musuh musuh Islam tidak akan rida akan kebangkitan Islam, sebagaimana Allah tunjukkan kita pada firmannya dalam surat Al Baqarah ayat 120.
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.”

Oleh karena itu muslim tidak boleh terjebak dengan opini yang diaruskan, muslim tidak boleh takut dan mundur dari perjuangannya, karena semua yang terjadi bukan Islam yang salah tetapi oknum pemeluknya yang telah menyimpang dari ajaran islam, kondisi ini tidak akan terjadi jika negeri ini menerapkan sistem Islam, karena dalam Islam setiap tindak kriminal atau jarimah harus segera diberikan hukuman tegas, sehingga menjadikan pelakunya jera dan orang lain tidak akan meniru, karena takut pada hukuman yang akan diberikan kepadanya seperti hukuman bagi pezina adalah didera 100 kali dera sebagaimana dalam Al Qur’an

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman.” (An Nur: 2)

Hal ini hanya bisa dilakukan oleh negara yang menerapkan syariah Islam secara kafah yang bisa disebut dengan khil4f4h
Allahu a’lam bish shawab