Oleh : Puji Rahayu

Alhamdulillah dipertemukan kembali dengan bulan Muharam yang penuh sejarah. Artinya masih ada kesempatan untuk mengevaluasi dalam memperbaiki kondisi umat Islam. Kondisi umat Islam yang masih lemah tidak berdaya tanpa perlindungan bapa. Sehingga umat Islam berada dalam jurang kebinasaan dan kezaliman. Mereka semakin jauh meninggalkan agamanya.

Dengan motivasi kesungguhan nabi tercinta dan para sahabatnya dalam menapaki jalan hijrah. Kaum muslim harus mengambil ibrah besar dalam peristiwa ini. Yang mana kaum muslim saat itu tidak peduli dengan banyaknya pengorbanan dalam hijrah. Mata mereka hanya tertuju pada keridhaan Ilahi. Jangankan cuma harta, luka yang mendera, sakit yang menimpa, bahkan nyawa lepas dari raga diangap bunga dalam perjalanan hijrah mereka.

Hijrah rasul sungguh bukan hanya hijrah dalam makna individu maupun komunitas. Kalau Cuma hijrah individu dan komunitas, tidak perlu pengorbanan sebesar itu. Cukup dengan menjaga diri dan komunitas dari kaum-kaum perusak akidah. In Sya Allah selamatlah keyakinannya. Namun bukan hijrah yang seperti itu yang menjadi tujuan Rasul akhir zaman ini.

Iya! Hijrah ala Nabi adalah hijrah untuk perubahan politik umat Islam. Karena ini adalah jalan kemuliaan dan satu-satunya cara untuk memperbaiki kondisi umat Islam seluruhnya. Dengan hijrah untuk perubahan politik inilah umat Islam dapat menerapkan perintah Allah yang belum bisa mereka laksanakan ketika di Mekah. Yakni sistem politik dan kepemimpinan Islam. Dari sini umat Islam mendapat taring kuat dan kuku tajam untuk menjaga kelestarian eksistensi manusia, menjaga akal, kehormatan, jiwa, pemilikan individu, agama keamanan dan negara mereka. Dari sini pula kedudukan umat Islam sejajar dengan bangsa Romawi dan Persia. Bahkan negara Islam melaju lebih cepat dari peradapan mereka.

Sejarah ini yang harus umat Islam ulangi dari momen Muharam ini. Setelah satu abad tidak bisa menerapkan sistem politik dan kepemimpinan Islam, kondisi umat porak poranda di setiap sendi kehidupannya. Eksistensi manusia terancam, akal tidak terjaga, kehormatan terkoyak, jiwa semurah sampah, kepemilikan individu bagaikan pagar makan tanaman, agama bukan harga mati, keamanan bagai diawan, dan negara bisa diobok-obok siapa saja.

Maka umat harus menyatukan kembali keeping-keping bangunan peradapan gemilangnya. Dengan istiqomah berusaha menyadarkan umat Islam lainnya agar berjuang bersama supaya negeri ini segera menerapkan sistem politik dan sistem kepemimpinan sesuai Islam. Kalau perubahan itu bukan dilakukan umat Islam sendiri, lalu siapa yang akan merubahnya?
ۗاِنَّ اللّٰه لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ
Artinya : ” …Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri…” (TQS : ar-Ra’d ayat 11)