Oleh: Daliyem (Mompreneur)

Warga Jalan Letjen Harun Sohar, Kelurahan Kebun Bunga, Kecamatan Sukarami Palembang Rabu (20/7/2022) sore sekitar pukul 16.00 WIB dikejutkan dengan temuan sorang petugas Dinas Kebersihan Kota Palembang tewas bersimbah darah. (Detik.com – Palembang, Rabu, 20 Juli 2022).

Korban diketahui bernama Darwis (57) warga kebun bunga ini pertama kali ditemukan oleh salah satu warga di sekitar lokasi kejadian dalam posisi tertelungkup di dalam parit pinggir jalan. Kapolsek Sukarami Kompol Dwi Satya Arian mengatakan dugaan sementara korban meninggal karena dianiaya anggota Reskrim Polsek Sukarami sudah melakukan olah TKP mencari barang bukti serta memintai keterangan saksi saksi dilokasi kejadian.

“Dari hasil olah TKP kami menemukan barang bukti diduga milik pelaku yang tertinggal di TKP dan masih akan kami dalami lagi,” katanya kepada wartawan saat ditemui dilokasi kejadian Rabu (20/7/2022). Untuk luka apa saja yang dialami korban, kata Dwi pihaknya sudah membawa jenazah korban ke Rumah Sakit Bhayangkara Mohammad Hasan Palembang untuk kepentingan outopsi.
“Identitas korban bernama Darwis warga Kebun Bunga, korban seorang petugas kebersihan di kota Palembang,” tutupnya.

Dari sekian banyak masalah pembunuhan di negeri ini walaupun telah diberikan sanksi hukum namun tidak sedikitpun berkurang. Masalah pembunuhan terus terjadi seakan hukum yang berlaku hanya sekedar hukum tambal sulam saja. Negeri ini yang dikatakan mayoritas beragama Islam namun kenyataannya memberlakukan hukum buatan manusia.
Faktanya hukum yang diterapkan jika hukum tersebut buatan manusia tentulah akan sarat dengan kepentingan pihak tertentu atau hukum tersebut sering berisi pasal-pasal karet yang dapat ditarik ulur sesuka hawa nafsu manusia.

Bagaimana Allah SWT berfirman: “Andaikan kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka pasti binasalah langit dan bumi ini dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya kami telah mendatangkan kepada mereka peringatan tetapi mereka berpaling dari peringatan itu.”              [QS. Al Mukminun (23) : 71]

Fakta yang terjadi saat ini adalah ketika hukum yang bersumber kepada manusia tentulah hukum tersebut akan menyebabkan banyak kecacatan. Dari itu Islam memandang bahwa hukum harus berdasarkan kesahihan yang datangnya dari Allah pasti hukum tersebut akan adil dan akan berpihak kepada semua orang.
Kita menyadari bahwa hukum yang berlaku saat ini adalah hukum dengan sistem sekuler di mana manusia menghilangkan aturan Islam di dalam kehidupan. Sistem sekuleris agama hanya mengatur urusan ibadah ritual saja (sholat, puasa, zakat, haji dll). Padahal didalam kehidupan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang didalamnya akan ada adaptasi atau hubungan yang terjadi dalam urusan kehidupan seperti pergaulan, ekonomi, sosial, keamanan, pendidikan kesehatan, politik dan lain sebagainya.

Jika urusan kehidupan ini menggunakan aturan manusia akan menjadi sesuatu yang dapat merusak tatanan kehidupan. Contoh kasus pembunuhan yang terjadi beberapa waktu yang lalu dan ini tidak saja terjadi pada kalangan rakyat atau kelas bawah namun juga terjadi pada kalangan pihak penegak hukum dan juga sebagian dari orang-orang yang memiliki kekuasaan. Dapat dipahami bahwa sangat sulit hukum ditegakkan secara adil dan amanah selama aturan Islam tidak ditegakkan. Didalam hukum yang lahir dari rahim sekulerisme telah cacat sejak lahir penuh dengan kepentingan.

Seharusnya hukum yang diberlakukan adalah hukum yang adil yang datangnya dari Allah SWT yang dapat memberikan jaminan keadilan untuk seluruh manusia dan juga dapat menjamin setiap jiwa seluruh rakyat yang berada di dalam sebuah negeri tanpa membedakan agama, warna kulit dan lain sebagainya. Hanya saja penerapan hukum yang adil yang datangnya dari Allah SWT tentunya harus ada sebuah sistem pemerintahan yang akan menerapkan hukum kehidupan secara Kaffah atau sempurna. Karena hukum yang berdasarkan sistem Islam maka ia akan menjalankan hukum tersebut secara adil karena berdasarkan dari perintah Allah. Sistem Islam Kaffah ini maka seluruh manusia akan dijamin kesejahteraannya dalam pemenuhan kebutuhan pokok (sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan dan keamanan) dan diberikan perlindungan terhadap : jiwa, harta benda, keturunan, kehormatan, keamanan.

Hukum potong tangan, cambuk, rajam, disalib dan lain lain semuanya bertujuan untuk melindungi setiap manusia agar bisa menjadi jaminan keamanan juga sebagai penebus dosa sehingga berefek jera bagi pelaku/ calon pelaku dan diberikan keadilan bagi korban dan keluarganya. Ketika hukum ini benar-benar telah dijalankan oleh negara maka tidak akan ada lagi orang-orang melakukan pelanggaran hukum justru negara akan mendorong seluruh rakyatnya menjadi orang-orang yang bertakwa. Dorongan inilah yang akan menjadikan sebagian dari orang-orang kafir berbondong-bondong akan masuk ke dalam Islam karena melihat keindahan dan keadilan syariat Islam yang diterapkan oleh negara kepada seluruh rakyatnya.

Dengan ketakwaan ini tentunya berasal dari ikatan aqidah yang mampu memberikan kesadaran bagi setiap manusia untuk melakukan perbuatan sesuai dengan perintah dan larangan Allah SWT. Yang kokoh inilah yang akan menjadi sandaran bagi setiap muslim untuk menyandarkan segala perbuatannya terhadap hukum Allah tanpa memilah-milah dan memilih. Sistem peradilan yang diterapkan Nabi SAW dilandaskan pada prinsip persamaan, keadilan, dan public sense. Sebagai contoh, Rasulullah tidak pernah membedakan perlakuan pada seseorang di mata hukum. Diceritakan, suatu ketika seseorang wanita di zaman Rasulullah dari keluarga terpandang, pernah terbukti mencuri. Usamah bin Zaid lantas mendatangi beliau untuk meminta keringanan agar sanksi potong tangan tidak diberlakukan. Rasulullah secara tegas menolak permintaan tersebut.
Beliau mengatakan, “Seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, akan aku potong tangannya.” Rasul SAW menyindir orang-orang tersebut sebagaimana diterangkan Alquran, bahwa apabila orang-orang terpandang berbuat salah, mereka berusaha memberikan keringanan hukuman. Sementara bila pelakunya orang kecil, maka hukum ditegaskan dengan setegas-tegasnya.
“Inilah contoh kehancuran umat-umat sebelumnya,” papar Rasul. Akhirnya, hukum had potong tangan pun dijatuhkan terhadap wanita tadi.

Syariah Islam yang diterapkan secara sempurna oleh negara justru meminimalisir pelanggaran bahkan menghilangkan setiap pelanggaran yang dilakukan oleh manusia secara umum dan oleh seorang muslim secara khusus. Manusia secara umum akan diberikan kenyamanan dan ketenangan. Namun sebagai seorang muslim akan menjadikan mereka sebagai hamba Allah yang bertakwa dan konsekuensinya adalah mendapat ganjaran berupa pahala dan juga surganya Allah SWT.

Keadilan dan penegakan hukum yang amanah hanya akan terwujud dalam kehidupan Islam di dalamnya. Aqidah Islam menjadi landasan masyarakat dan syariat Islam menjadi hukum-hukum yang ditegakkan bagi dunia.

Wallahu’alam bishowab.