Oleh: Ummu Afra

Kembali publik dikejutkan dengan berbagai tingkah kawula muda, dari fenomena perundungan (bullying) ekstrem dan diluar nalar yang terjadi di Tasikmalaya dan mewabahnya racun Citayam Fashion Week (CFW). Ini bukti nyata perusakan dan pembajakan generasi muda yang massif. Sayangnya negara hanya membuat kebijakan dan pernyataan normative.

Dilansir dari detik.com (21/7/2022), bocah kelas enam SD di Tasikmalaya jadi korban perundungan. Bocah malang itu mengalami depresi hingga sakit keras dan akhirnya meninggal usai dipaksa menyetubuhi kucing oleh teman sebayanya. Sedang CFW adalah aksi peragaan busana di zebra cross kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat oleh para remaja dari Depok, Citayam, dan Bojonggede, yang merupakan daerah penyangga Jakarta (KOMPAS.com,25/7/2022). Fenomena CFW ini menampilkan gambaran kawula muda yang krisis jati diri, korban kemiskinan sistemik dan gaya hidup liberal, serta munculnya bibit-bibit LGBT. Namun fenomena ini semakin marak dan semakin tenar sehingga kemudian merebak ke kota-kota lain, seperti Semarang, Solo, Surabaya, Jogjakarta, dll.

Terhadap fenomena-fenomena tsb para pejabat negeri ini hanya membuat kebijakan dan pernyataan normative, seperti mencarikan tempat untuk fashion week, memberi beasiswa, menganggap itu sebuah kreatifitas. Bahkan untuk kasus perundungan di Tasikmalaya hanya mengeluarkan pernyataan bahwa fenomena tersebut merupakan tanggung jawab bersama dan butuh kerjasama dari orang tua, sekolah dan tenaga pendidik, tanpa menyebut adanya peran negara di dalamnya. Padalah dibutuhkan peran negara yang mampu mengeluarkan kebijakan dengan perubahan arah orientasi dan pembinaan generasi. Jika arah orientasi dan pembinaan generasi masih terkungkung dengan sistem kapitalisme sekuler, kerusakan generasi di masa depan akan semakin parah.

Kehidupan kapitalistik sekuler dan materialistik telah membuat para pemuda bebas mengekspresikan diri dan menjalani kehidupan yang jauh dari nilai-nilai Islam. Kehidupan sekuler telah menjauhkan manusia dari hakikat visi dan misi penciptaannya. Sebagai manusia harusnya menjadi hamba Alah, namun dalam kehidupan materialistik sekuler manusia menjadi hamba materi atau hawa nafsu, tidak peduli apakah materi yang diperolehnya dengan cara halal atau haram. Sehingga LGBT, perundungan, haus eksistensi, menjadi viral dan menghasilkan uang menjadi cara pandang para remaja sekarang.

Pembinaan Generasi Dalam Sistem Islam

Sepatutnya negara mengeluarkan kebijakan dengan perubahan arah orientasi dan pembinaan generasi. Negara harus merubah arah orientasinya dari ideologi kapitalisme sekuler kepada ideoogi lain yang lebih baik yaitu Islam, sehingga generasi muda bisa dibina sesuai dengan syariat Islam. Perubahan mendasar dan menyeluruh itu menuntut pemberlakuan Islam, menutup semua pintu pemyebaran nilai, aturan dan perilaku liberal.

Islam bukan hanya agama ritual yang berkaitan dengan sholat, puasa, zakat dan haji, namun juga merupakan system kehidupan yang secara praktis terwujud dalam sebuah institusi Negara yang disebut Khilafah. Keberadaan Khilafah akan mewujudkan pemikiran, perasaan dan aturan yang diterapkan di tengah masyarakat agar terikat dengan hukum syariat.

Maka untuk membentuk generasi cemerlang, Khilafah akan memastikan tiga pihak berhasil menjalankan peran masing-masing.

Pihak pertama yaitu orang tua dan keluarga. Keluarga akan menanamkan prinsip-prinsip aqidah Islam serta hokum syariat sehingga anak bisa menjalani hidupnya sesuai dengan tuntunan Islam

Pihak kedua yaitu masyarakat. Masyarakat dalam Khilafah memiliki corak yang khas yaitu interaksi diantara mereka adalah amar ma’ruf nahi munkar. Tolak ukur keberhasilan dan kebahagiaan adalah keridhoaan Allah, bukan materialistic seperti system sekuler saat ini. Maka orientasi kehidupan generasi akan focus pada fastabiqul khairat atau berlomba-lomba dalam kebaikan.

Pihak ketiga adalah Negara. Peran Negara adalah memastikan setiap warga Negara, termasuk generasi muda, terikat dengan hukum syariat. Maka khilafah akan melakukan pembinaan kepada warga negaranya melalui system pendidikan Islam. Sistem pendidikan ini akan menghasilkan generasi yang memiliki kepribadian Islam (Syakhsiyyah Islam), yaitu pola pikir dan pola sikap mereka sesuai dengan Islam. Mereka juga akan dibekali dengan ilmu pengetahuan dan ilmu teknis agar mampu mengarungi kehidupan sehingga dihasilkan generasi-generasi unggul yang siap menjadi problem solver di tengah masyarakat karena mereka peka terhadap qadha mashiriyah (permasalahan krusial umat).

Selain itu Khilafah akan menerapkan system ekonomi Islam yang orientasinya adalah kesejahteraan rakyat. Khilafah secara tidak langsung akan menjamin kebutuhan pokok rakyatnya melalui jaminan setiap kepala keluarga memiliki pekerjaan. Jaminan ini akan membuat setiap kepala keluarga mampu memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan keluarganya secara ma’ruf. Kemudian untuk kebutuhan dasar publik seperti pendidikan, kesehatan dan keamanan, Khilafah akan memberikan kepada rakyat secara gratis. Alhasil, tidak ada satupun anak-anak yang harus putus sekolah hanya disebabkan faktor ekonomi.

Khilafah tidak akan mengambil keuntungan dari perilaku liberal rakyat yang dilabel dengan kreatifitas sekaligus menjadi jalan keuntungan bagi para kapitalis seperti system saat ini. Khilafah akan menutup semua celah kerusakan perilaku generasi, seperti LGBT, gaya hidup sekuler liberal dan sejenisnya.

Negara dalam hal ini Khilafah berperan sangat penting dalam pembinaan generasi muda sesuai dengan Syariat Islam. Dengan demikian generasi muda bisa menjadi generasi unggul yang memiliki kepribadian Islam yang siap menjadi pemimpin di masa depan.
Wallahu a’lam bishshawab.