Oleh Ummu Irul

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَاۤءَ بِالْقِسْطِۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْا ۗاِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Maidah: 08)

Pada ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada seluruh orang beriman untuk berlaku adil, apapun perannya. Sebagai orang tua, dituntut berlaku adil kepada putra putrinya. Sebagai saksi, diwajibkan untuk bersikap adil dan jujur. Pun sebagai penegak hukum, dituntut untuk bersikap adil. Apalagi menjadi seorang pemimpin, maka sikap adil wajib dimiliki.

Demikian pula ketika didaulat sebagai aparat penegak hukum, misalnya polisi, jaksa dan hakim, sikap adil ini menjadi syarat mutlak untuk bersemayam pada diri mereka. Di tangan-tangan mereka, suatu negeri itu tegak.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan akan siksa di akhirat apabila hukum itu tidak ditegakkan. Beliau mengingatkan bahwa yang membinasakan orang-orang terdahulu adalah hukum yang tidak ditegakkan dengan adil.
Jika orang terpandang atau memiliki kedudukan melanggar hukum tidak dihukum, tapi jika rakyat biasa melanggar hukum, maka hukum ditegakkan.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ قُرَيْشًا أَهَمَّهُمْ شَأْنُ الْمَرْأَةِ الْمَخْزُومِيَّةِ الَّتِي سَرَقَتْ فَقَالُوا وَمَنْ يُكَلِّمُ فِيهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا وَمَنْ يَجْتَرِئُ عَلَيْهِ إِلَّا أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ حِبُّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَلَّمَهُ أُسَامَةُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَشْفَعُ فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللَّهِ ثُمَّ قَامَ فَاخْتَطَبَ ثُمَّ قَالَ إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ وَايْمُ اللَّهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا

“Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha beliau berkata, ‘orang-orang Quraisy mengkhawatirkan keadaan (nasib) wanita dari bani Makhzumiyyah yang (kedapatan) mencuri. Mereka berkata siapa yang bisa bicara kepada Rasulullah saw? Mereka menjawab bahwa tidak ada yang berani kecuali Usamah bin Zaid yang dicintai Rasulullah saw. Maka Usamah pun berkata kepada Rasulullah saw, tetapi Rasulullah saw bertanya, ‘Apakah engkau memberi syafaat (pertolongan) berkaitan dengan hukum Allah?’
Rasulullah saw pun berdiri dan berkhutbah, ‘Wahai manusia, sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah jika ada orang yang mulia (memiliki kedudukan) di antara mereka yang mencuri, maka mereka biarkan (tidak dihukum). Namun jika yang mencuri adalah orang yang lemah (rakyat biasa), maka mereka menegakkan hukum atas orang tersebut. Demi Allah, sungguh jika Fatimah binti Muhammad mencuri, aku sendiri yang akan memotong tangannya.’ ” (HR Bukhari).

Sungguh telah ada pada diri Rasulullah saw, suri teladan yang baik. Pun terkait penegakan hukum yang harus adil. Sebagai umat Islam mayoritas, tentu kita menginginkan agar para penegak hukum negeri ini meneladani beliau.

Contoh sikap adil yang harus ada pada diri penegak hukum adalah tatkala menangani sebuah kasus, mereka tidak boleh “Emban cindhe, Emban siladan” yang artinya “Tidak boleh pilih kasih, tidak boleh tebang pilih.”

Sangat disayangkan. Di negeri yang mayoritas beragama Islam ini, pelaksanaan hukumnya bagaikan pisau dapur. Tajamnya hanya ke bawah. Maknanya, apabila rakyat kecil (tidak berpangkat) melakukan kesalahan, meski kecil, hukum langsung ditegakkan, sanksi langsung dijatuhkan.
Namun jika pelanggar hukum itu penguasa atau pengusaha (berpangkat, berkedudukan tinggi dan berharta) pastilah pisau itu mendadak tumpul, tidak bisa digunakan untuk mengiris atau memotong apapun.

Tentu kita bertanya-tanya, “Mengapa keadilan sulit didapatkan? Mengapa harapan itu seperti menggantang asap, masih jauh panggang dari api? Apakah saking mahalnya, hingga harga keadilan itu tak terjangkau di negeri muslim terbesar ini?”

Ketika rasa adil sulit didapatkan, ketika hukum bagaikan sebuah pisau dapur, maka pastilah kehancuran yang akan dituai oleh suatu negeri tersebut.

Tak ayal jika negeri ini penuh dengan kasus-kasus luar biasa, kriminal terus tumbuh, bagaikan jamur di musim penghujan. Pelakunya pun beragam. Mulai dari pengangguran hingga orang gedongan. Dari rakyat jelata hingga orang berkuasa. Dari orang yang tak berbintang hingga yang bertaburan bintang.

Sebut saja, belum kasus FS usai, muncul kasus para koruptor dari papan atas. Mereka berasal dari penegak hukum pula. Mereka yang seharusnya mengadili malah seolah-olah minta diadili. Mereka yang seharusnya menegakkan hukum, malah kini merobohkan institusi hukum. Belum usai kasus sang koruptor, lagi-lagi umat disuguhi kasus peredaran narkoba sekaligus pemakaian barang haram yang dilakukan oleh aparat hukum.
Jika sudah begini, kepada siapa rakyat jelata harus meminta perlindungan atau penegakkan hukum? Mengapa hal ini terus berulang, tak ada habisnya?

Maraknya pelaku kriminal bermuara pada penerapan Kapitalisme Sekularisme di negeri ini. Dalam sistem ini, masyarakat biasa:

  • Bertindak semaunya, yang penting ‘cuan’ ada di genggaman.
  • Tidak menjadikan halal dan haram sebagai pijakan dalam bertindak. Hingga mereka tega melakukan hal-hal sadis dan hina. Misal melakukan pembunuhan, melakukan korupsi, berjualan barang haram seperti sabu-sabu, narkoba dan lain-lain.

Semuanya mereka lakukan tanpa rasa bersalah. Yang terpenting buat mereka ‘cuan’ di tangan. Agama benar-benar mereka tinggalkan di rumah-rumah, atau di musala-musala dan masjid-masjid.

Jika ingin negeri ini terbebas dari para pembunuh, koruptor dan pengedar atau pemakai barang haram, maka kita harus segera mencampakkan Kapitalisme-liberal. Bersegeralah kembali kepada aturan Islam secara menyeluruh.

Mengapa harus Islam?
Pertama, lantaran sistem Islam telah terbukti mampu menekan angka kejahatan dan perbuatan-perbuatan hina lainnya di titik terendah.

Berdasarkan catatan sejarah dari Universitas Malaya Malaysia, selama berabad-abad pemerintahan Khil4f4h Utsmaniyah, hanya terdapat 200 kasus yang diajukan ke pengadilan saat itu.
Jumlah ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan tindak kriminal yang terjadi saat ini.

Kedua, Islam berasal dari Sang Pencipta yang Maha Sempurna. Maka tak mungkin ada kekurangan dan tak mungkin ada keterbasan. Sangat berbeda dengan sistem buatan manusia yang sangat lemah, terbatas dan subyektif.

Tunggu apalagi, wahai Kaum Muslimin! Bersegeralah kita sambut seruan Allah/Islam, agar negeri ini berkah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan limpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Akan tetapi, ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf: 96)

Wallahu a’lam bishawwab.