Oleh: Tinah Ma’e Miftah
(Aktivis Muslimah dan Member Akademi Menulis Kreatif)

Kabar meninggalnya satu keluarga di Kalideres Jakarta Barat, menggegerkan masyarakat. Pasalnya keluarga yang terdiri dari Rudianto Gunawan (Ayah,71 tahun), Margaretha Gunawan (Ibu, 68 tahun), Dian Febbyana Apsari Dewi (Anak, 42 tahun) dan Budianto Gunawan (Paman, 66 tahun). Diduga mereka meninggal karena kelaparan. Dari hasil otopsi keempat jenasah didapatkan keadaan lambung yang kosong. Itu artinya mereka tidak mendapatkan asupan makanan dan minuman dalam waktu yang cukup lama.

Sementara itu, pihak kepolisian sampai saat ini pun masih belum bisa mengungkap secara pasti penyebab kematian para korban. Menurut Kabib Humas Polda Metro Jaya, Kombes Endra Zulpan mengungkapkan kemungkinan penyebabnya bukan karena kelaparan. Sebab menurut beliau rumah korban berada di kompleks yang tergolong berada, jadi kecil kemungkinan jika mereka kekurangan makan hingga kelaparan.
“Bisa dikatakan untuk sementara tidak mengarah kepada kelaparan. Kami tidak menemukan adanya penyebab utama karena mati kelaparan,” ujar Zulpan dalam keterangannya. Selasa, 14-11-2022 (Kompas.com)

Pernyataan itu diperkuat oleh Ketua Rt 007/Rw 015 Perumahan Citra Garden Kalideres tempat mereka tinggal yang menyatakan bahwa mereka termasuk keluarga yang mapan. Maka tak heran jika menimbulkan berbagai spekulasi terhadap penyebab kematian satu keluarga tersebut. Bahkan ada yang menyangkut-pautkan dengan sekte tertentu, ada juga yang mengatakan karena terlilit utang.

Apapun alasannya, tragedi meninggalnya satu keluarga di tengah kota metropolitan yang diduga karena kelaparan sungguh sangat menyesakkan dada. Hal itu menggambarkan betapa rusaknya tata kehidupan bermasyarakat di negeri kita tercinta. Sistem Kapitalis-sekular
telah nyata-nyata menjadi biang keroknya. Aturan hidup yang memisahkan agama dari kehidupan, menjadikan individu masyarakat hanya sibuk dengan urusan masing-masing. Sementara, rasa empati dan peduli terhadap keadaan sekitar, bahkan terhadap tetangga dan keluarga telah hilang entah kemana.

Di sisi lain, sistem kapitalis-sekular juga mendorong adanya pemerintahan yang berlepas diri dari tanggung jawab terhadap rakyatnya. Melahirkan penguasa yang cenderung berpihak kepada para kapitalis, meskipun hal itu membuat masyarakat sengsara. Salah satu contoh, bagaimana negara membiarkan praktek ribawi menjamur di negeri ini.

Ditambah dengan pola hidup masyarakat hedonis, yang selalu terbuai dengan kemewahan, berpenampilan trendi hanya karena ingin dipuji, meskipun kadang harus berutang sana-sini. Hal-hal semacam itu yang mengakibatkan masyarakat jatuh ke dalam kesengsaraan.

Berbeda dengan sistem Islam. Sistem yang diturunkan oleh Allah Swt. sebagai sang pemilik alam semesta untuk mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Tak terkecuali masalah ekonomi, baik secara individu manusia dan ekonomi global yang menjadi urusan negara.

Ekonomi Islam dibangun berlandaskan syariat Islam. Negara yang menerapkan sistem Islam tidak akan pernah membiarkan rakyatnya mati kelaparan. Karena semua kebutuhan pokok manusia seperti makanan, pakaian, kesehatan dan pendidikan adalah hal yang sangat vital, menyangkut keberlangsungan hidup manusia, sehingga pemenuhannya menjadi tanggung jawab negara.

Negara juga akan melarang berbagai praktek ribawi apapun bentuknya, seperti bunga koperasi, pegadaian, termasuk asuransi dan rentenir yang disadari atau tidak telah banyak menyengsarakan masyarakat. Dalam Islam, hukum riba jelas haram. Seperti yang terdapat di dalam Al-Qur’an. Allah Swt. berfirman:

“Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kerasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba … (TQS. Al-Baqarah (2): 275)

Haramnya praktek ribawi juga terdapat dalam hadits, Rasulullah bersabda:
“Rasulullah telah melaknat pemakan riba, pemberi makan dengan riba, penulisnya dan dua orang saksinya ….” (HR. Muslim).

Dalam hadits lain Rasulullah pun bersabda:
“Jika telah merajalela zina dan riba di suatu negeri, maka sungguh mereka telah menghalalkan diri mereka (mendapat) azab Allah ( HR. Abu Ya’la).”

Kedua hadits di atas jelas bahwa Rasulullah telah melaknat para pelaku riba, karena akan membawa madarat (kerugian) besar, tidak hanya individu saja tapi juga kerugian dan kerusakan masyarakat dan negara.

Wallahu alam bishawab