Oleh. Maman El Hakiem.

“Apabila dia mengalami kebaikan, dia bersyukur, dan hal itu merupakan kebaikan baginya. Dan apabila dia tertimpa keburukan, maka dia bersabar dan hal itu merupakan kebaikan baginya.”(HR. Muslim no.2999).

Inilah urgensi dari cara berpikir positif dalam persepsi kesehatan iman, yaitu menjadikan fakta yang terindera dan teralami sebagai episode yang mambuat manusia berpikir dengan akalnya untuk menemukan kehadiran Allah Swt di setiap ayat-ayatnya yang tersebar di muka bumi.

Musibah adalah bagian dari episode kehidupan yang darinya manusia banyak belajar tentang hakikat kehidupan,tentang kesabaran, tentang kesadaran akan tugas dan tujuan hidup manusia di dunia, dan tentang tempat kembali saat nanti semua pulang ke hadirat Allah Swt. Mereka yang selalu berpikiran positif atas segala hukum Allah SWT menjadikannya cerdas akan hakikat kematian di saat terjadnya musibah seperti gempa bumi dan lainnya.

“Siapa orang paling cerdas dan mulia wahai Rasulullah?’ Nabi menjawab, ‘Orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya, mereka itulah orang yang cerdas, mereka pergi dengan membawa kemuliaan dunia dan kehormatan akhirat’.” (hadits riwayat Ibnu Majah).

Wallahua’lam bish Shawwab.